![]() |
| Kepulan asap ledakan di sekitar gedung media penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) di Teheran, Minggu, 01 Maret 2026. (Dok. Anadolu via Getty Images) |
Amerika Serikat kembali meluncurkan serangan militer ke Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi itu sebagai “serangan membela diri tambahan” atas arahan Presiden Donald Trump. Serangan terbaru disebut menyasar sejumlah target strategis Iran setelah ketegangan meningkat menyusul jatuhnya helikopter Apache AS di sekitar kawasan Selat Hormuz.
Dalam siaran pers, dunia akan membacanya sebagai
konflik geopolitik biasa, ketegangan yang berujung konflik bersenjata antara
Iran versus Amerika Serikat. Gejolak geopolitik yang membawa Timur Tengah
kembali memanas, harga minyak melonjak, pasar global panik.
Tetapi sebenarnya ada beberapa hal yang kurang
mendapat perhatian media internasional, yakni kenyataan bahwa dunia sedang
bergerak ke fase ketika ketakutan menjadi bahasa utama politik global.
Dalam arena konflik kekuasan, politik yang didominasi
oleh ketakutan Masyarakat membuat perang hampir selalu lebih mudah menyelesaikan
akar masalah daripada lobby-lobby perdamaian.
AS menyebut serangan ini sebagai respons terhadap
“agresi Iran yang terus berlanjut”. Iran di sisi lain memandang serangan
AS-Israel sebagai agresi terhadap kedaulatan mereka. Di antara dua narasi itu,
publik dunia kembali dipaksa memilih kubu sambil menerima satu kenyataan lama:
rakyat sipil akan selalu menjadi pihak yang paling dulu membayar harga konflik.
Bukan hanya lewat kematian. Tetapi lewat inflasi,
krisis energi, kenaikan harga pangan, dan ketidakpastian ekonomi global. Beberapa
jam setelah serangan diluncurkan, harga minyak dunia langsung bergerak naik.
Harga Brent melonjak hingga sekitar US$95 per barel sementara WTI menembus
lebih dari US$92.
Bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia,
perang di Timur Tengah tidak pernah benar-benar jauh. Implikasi yang paling
terasa dalam kehidupan warga negaranya berbentuk rupiah yang melemah. Harga BBM
yang naik. Biaya logistik yang membengkak. Dan daya beli masyarakat yang
semakin tertekan dengan kebutuhan pokok yang merangkak naik.
Perang modern hari ini tidak lagi hanya berbentuk penyerangan dari pasukan bersenjata yang memulai operasi menghancurkan kota. Ia menghancurkan rasa aman ekonomi lintas negara. Bagian yang menarik, eskalasi ini terjadi justru ketika diplomasi sebenarnya masih berjalan. Laporan Kompas menyebut pembicaraan damai terkait Selat Hormuz dan isu nuklir Iran masih berlangsung di Doha, Qatar.
Tetapi, seperti sering terjadi dalam sejarah geopolitik modern, diplomasi kini berjalan berdampingan dengan ancaman militer. Kondisi yang Masyarakat global saat ini hadapi ialah tuntutatn untuk semakin terbiasa hidup dalam situasi ambigu, Dimana para pemimpin berbicara tentang perdamaian sambil menyiapkan pasukan bersenjata dan pangkalan rudal.
Kondisi geopolitik saat ini bukan sekadar persoalan
hubungan antar negara yang semakin memanas. Itu adalah cerminan psikologi Masyarakat
hari ini, bagaimana negara-negara besar semakin percaya bahwa kekuatan militer
lebih efektif membangun posisi tawar dibanding membangun kepercayaan. Akibatnya,
ketegangan internasional berubah menjadi siklus permanen yang menguntungkan
industri senjata, pejabat politik, dan ekonomi perang global. Sementara
masyarakat sipil di berbagai negara hanya menerima efek dominonya.
Kenaikan harga energi terjadi di semua sektor. Krisis
pangan jadi ancaman yang kian meluas. Kecemasan ekonomi dialami oleh hamper seluruh
Masyarakat. Dan ketidakpastian masa depan mengiringi kelompok muda dunia. Ironisnya,
konflik seperti ini sering dijual kepada publik dengan bahasa moral, yakni keamanan,
stabilitas, pertahanan diri, atau perlindungan demokrasi. Padahal dalam
praktiknya, perang modern hampir selalu berkaitan dengan perebutan pengaruh
geopolitik, jalur energi, dan dominasi kawasan strategis.
Selat Hormuz sendiri bukan wilayah biasa. Sekitar
seperlima distribusi minyak dunia melintas dari jalur tersebut. Ketika kawasan
itu memanas, dunia otomatis ikut gemetar. Karena itu konflik AS-Iran tidak bisa dipahami
hanya sebagai konflik dua negara. Tapi, adalah pertarungan tentang siapa yang
mengontrol stabilitas energi global. Sedang, sistem ekonomi dunia yang sangat
bergantung pada minyak, kontrol energi berarti kontrol terhadap ekonomi politik
internasional.
Selain dampak yang terjadi dan meluas di Tengah Masyarakat
dunia, hal lain yang membuat situasi hari ini semakin mengkhawatirkan adalah
normalisasi eskalasi militer itu sendiri. Jika dulu, serangan langsung
antarnegara besar bisa memicu kepanikan global luar biasa. Sekarang publik
dunia seperti mulai terbiasa melihat berita perang setiap minggu.
Ketika Drone ditembak jatuh. Rudal mulai terus diluncurkan
dari berbagai pangkalan militer. Pangkalan-pangkalan penuh pasukan bersenjata
diserang. Harga minyak mulai melesat naik. Lalu dunia tetap melanjutkan
aktivitas seperti biasa. Normalisasi keadaan dalam kondisi kritis seperti saat inilah
yang berbahaya. Sedang, ketika perang menjadi rutinitas informasi, manusia
perlahan kehilangan sensitivitas moral terhadap dampaknya.
Saat kematian manusia mulai dianggap hanya hitungan statistik.
Gelombang pengungsi berubah menjadi angka laporan migrasi penduduk saja. Juga
penderitaan sipil berubah menjadi bagian dari siklus berita global. Padahal
setiap eskalasi geopolitik selalu meninggalkan efek panjang terhadap kehidupan
sehari-hari masyarakat biasa.
Mungkin inilah bagian paling tragis dari dunia modern
hari ini, saat keputusan perang dibuat oleh sekelompok pejabat politik dan
militer di lingkar elit kekuasaan. Tetapi biaya dan resiko sosialnya dibayar
oleh rakyat global yang bahkan tidak pernah ikut dilibatkan di meja penguasa
dalam Upaya memoderasi pengambilan keputusan.

