Rakyat Indonesia Belum Menang, Reformasi Pasca Orde Baru Hanya Berganti Cara

Di tahun 98, kita berhasil menjatuhkan Orde Baru sebagai rezim, tetapi gagal membunuh cara berpikir para pemangku kekuasaannya. Hari ini, ...

TEMPO/ Fernandez Hutagalung

Tak terasa 28 tahun yang lalu mahasiswa memenuhi jalanan dengan satu keyakinan besar, bahwa Indonesia bisa diselamatkan dari kekuasaan yang terlalu lama mabuk oleh dirinya sendiri. Mereka turun ke jalan bukan karena sedang mencari sensasi politik ataupun eksposure sosial media. Mereka turun ke jalan hanya demi menyuarakan aksi untuk membela masyarakat karena negara sudah terasa makin sesak. Harga harga kebutuhan pokok sudah semakin terasa melambung tinggi.

Rupiah runtuh. Korupsi menjadi budaya yang setiap hari dipraktikkan oleh pemangku kekuasaan. Kritik dari warga dibungkam dengan todongan senjata dan popor di dahi. Orang-orang yang berbeda pandangan dan pendapat hilang diculik saat gelap malam. Mereka yang terdampak hilang karena berbeda pendapat. Dan kekuasaan hanya berputar di lingkar keluarga, kroni, dan orang-orang dekat istana.

Lalu rakyat mulai percaya sebuah mitos, bahwa jika Soeharto jatuh, Indonesia akan berubah. Tetapi mungkin inilah ironi yang belakangan baru kita sadari. Bergulirnya waktu dan bergantinya tampuk pimpinan di Indonesia membuktikan bahwa asumsi yang kita alami hanyalah mitos yang berdiam di kepala.

Di tahun 98, kita berhasil menjatuhkan Orde Baru sebagai rezim, tetapi gagal membunuh cara berpikir para pemangku kekuasaannya. Hari ini, usai bergulir 28 tahun pascaReformasi, bayang-bayang itu terasa kembali berdiri di depan kita.

Lewat pendekatan penguasa yang terasa lebih sopan. Berbicara dengan cara lebih halus. Pola pikir kian modern. Lebih piawai memainkan citra.Tetapi jiwanya tetap saja sama. Mereka adalah sekelompok orang yang haus kekuasaan. Segerombolan orang yang ingin terus diwariskan, dipusatkan, dan dijaga oleh lingkar pejabat yang itu-itu saja.

Dramaturgi itu dipertontonkan secara simbolik sekaligustragis ketika Indonesia hari ini dipimpin oleh Presiden Mantan panglima Kopasus dari regu Mawar Bernama Prabowo Subianto (yang juga mantan menantu Soeharto), di saat bangsa ini sedang memperingati Reformasi Mei 1998.

Sejarah Indonesia seperti sedang mengolok-olok rakyatnya sendiri. Anak-anak muda dulu dipukul, diculik, diteror, bahkan matidemi menjatuhkan sistem Orde Baru. Tetapi hampir tiga dekade kemudian, lingkar kekuasaan yang sama justru kembali masuk ke istana lewat pintu demokrasi. Dan yang lebih ironis, banyak masyarakat menerimanya dengan tepuk tangan penuh rasa bangga dan bahagia.

Ketika rakyat perlahan lupa mengapa dulu mereka marah, inilah bentuk paling berbahaya dari kemunduran bangsa. Karena sesungguhnya Orde Baru tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menyesuaikan diri dengan zaman. Dulu ia hadir lewat todongan senjata pasukan bersenjata, sensor televisi, dan ancaman penghilangan nyawa. Hari ini ia hadir lewat sosok oligarki media, buzzer figur politik, pembiasaan politik dinasti, dan pencitraan lewat dunia maya.

Dulu rakyat dibungkam dengan ketakutan. Hari ini rakyat ditidurkan dengan distraksi dan perpecahan penuh permusuhan. Polarisasi seperti telah menjadi komoditas transaksi di kalangan penguasa untuk membenturkan antar kelompok Masyarakat.

Dan mungkin itu sebabnya situasi sekarang jauh lebih rumit jika dibanding apa yang telah terjadi di 1998. Karena masyarakat tidak merasa sedang hidup dalam ancaman, padahal perlahan mereka sedang dibiasakan menerima kemunduran sebagai kewajaran.

Nepotisme dianggap hal yang lumrah dan dinormalkan. Politik keluarga dianggap sebagai kewajaran dan peluang. Konflik kepentingan dianggap strategi berbagi kepentingan. Pejabat inkompeten dipertahankan karena sebatas loyal. Kritik Masyarakat dianggap suara kebencian. Mahasiswa yang turunke jalan dituduh tidak nasionalis dan Media alternatif dituding antek bayaran George Soros.

Semua benturan kepentingan itu jadi makin terdengar familiar. Dan yang paling menyeramkan dari semua ini ialah, bangsa ini mulai kehilangan sensitivitas moral terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Masyarakat dibuat terlalu lelah untuk marah. Dibuat Terlalu sibuk mencari uang untuk mengisi perut, bertahan hidup hingga kehilangan kemampuan buat melawan. Terlalu sering dibuat kecewa tanpa keadilan dan tindakan hingga akhirnya memilih pasrah. Padahal, kekuasaan selalu tumbuh paling subur di tengah rakyat yang kelelahan.

Reformasi 1998 sebenarnya bukan sekadar pergantian presiden. Ia adalah upaya membangun kesadaran bahwa negara tidak boleh lagi dikuasai oleh satu lingkar penguasa yang merasa dirinya lebih penting daripada rakyat.Tetapi harini kita justru melihat gejala sebaliknya.

Kekuasaan kembali terkonsentrasi pada sekelompok orag di kolam yang sama. Politik semakin di koptasi jadi urusan kaumelitis. Orang-orang dekat penguasa dibuat makin dominanpada akses kekayaab. Institusi korektif dibuat perlahankehilangan keberanian mengoreksi penyalahgunaan negara. Dan publik dibuat terbiasa menerima semuanya sedikit demi sedikit. Perlahan demi perlahan. Karena kehancuran demokrasi modern memang tidak datang secara spektakuler.

Otoritarianisme tidak selalu diawali dengan konvoi tank militer di jalanan atau siaran televisi yang diputus paksa oleh Penguasa despotik. Kekuasan absolut datang perlahan. Dimulai lewat jalur-jalur administratif. Terlihat Legal. Masuk secara Sopan. Bahkan, kadang dibungkus jargon nasionalisme. Sampai akhirnya rakyat tidak sadar bahwa hak kebebasan mereka sedang dicabut satu persatu,  sedikit demi sedikit.

Inilah yang gagal dipahami banyak orang, bahwaotoritarianisme modern tidak datang dengan wajah yang menyeramkan. Kadang ia justru tampil ramah, populis, dekatdengan rakyat, aktif membangun citra di media sosial, dan pandai membuat gimmick populis sederhana.

Tetapi di balik semua itu, institusi control dan korektif pelan-pelan dilemahkan. Akses pada kritik dipersempit. Dan kekuasaan makin jadi hal yang disentuh. Indonesia hari inisedang berdiri di titik berbahaya itu.

Kita memang masih punya pemilu setiap 5 tahun sekali. Perusahaan pers masih ada dan beroperasi. Orang-orang masih bisa menyampaikan mengkritik lewat internet. Tetapiapakah demokrasi hanya sebatas dan sedangkal itu?

Kalau hukum makin tajam ke lawan dan tumpul ke lingkarkekuasaan, apakah itu wujud pemerintahan yang sehat? Kalau politik hanya diisi oleh sekeluarga elite politik lama, apakah itu tanda kemajuan? Kalau rakyat hanya dijadikan penonton dari pesta demokrasilima tahunan, apakah itu benar-benar arti demokrasi?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena sejarahmenunjukkan satu hal yang menakutkan, karena bangsa tidakruntuh ketika rakyatnya miskin. Bangsa runtuh ketikarakyatnya mulai menganggap kerusakan sebagai hal normal. Dan Indonesia perlahan bergerak ke sana.

Kita terlalu sering menertawakan kebodohan pejabat sampai lupa bahwa dampaknya nyata. Bahwa harga kebutuhan pokok untuk mempertahankan hidupsudah naik. Lapangan kerja kian sempit. Akses Masyarakat pada Pendidikan mahal. Korupsi menjadi kian merembet jadiorganisme yang hidup. Dan masa depan bagi generasi mudaterasa makin kabur arahnya.

Tetapi anehnya, masyarakat justru makin mudah dipolarisasioleh isu receh dan perang identitas. Sementara elite penguasapolitik terus tertawa di meja kekuasaan yang sama. Inilahkemenangan terbesar oligarki. Bukan ketika mereka berhasil menguasai negara, tetapi ketika rakyat gagal menyadari bahwa mereka sedang dikuasai. Dan mungkin satu kalimat penyadaran yang terasa paling menyakitkan untuk disadari setelah 28 Reformasi adalah: Indonesia ternyata tidak benar-benar keluar dari Orde Baru, Kita hanya memodernisasi cara otoritarianisme bekerja.

Karena itu, peringatan Reformasi hari ini seharusnya tidak berhenti pada nostalgia mahasiswa era lama saat mereka memakai almamater dan mengunggah fotohitam-putih mengenang tragedi 1998.

Reformasi seharusnya menjadi alarm peringatan, bahwabencana akan segera Kembali terjadi. Bahwa kekuasaan selalupunya nafsu alami untuk kembali membesar pada habitatnya. Bahwa demokrasi bisa mundur dan tejerembab kapan saja. Dan bahwa rakyat yang terlalu cepat merasa aman biasanyabaru sadar ketika semuanya sudah terlambat.

Pertanyaannya sekarang, “Apakah masyarakat Indonesia masih punya keberanian moral untuk melawan pembusukandemokrasi?” Atau kita akan menjadi generasi yang menyaksikan Orde Baru lahir kembali?

Posting Komentar