![]() |
| Presiden Prabowo memberikan pengantar dalam Sidang Kabinet Paripurna yang digelar di Istana Negara (Dok. Sekretariat Presiden) |
Bagi saya, Salah satu masalah paling serius dalam politik Indonesia hari ini bukan sekadar korupsi anggaran atau oligarki partai, tetapi normalisasi ketidakmampuan di lingkar kekuasaan. Jabatan menteri yang seharusnya diisi orang dengan kapasitas teknokratis, pengalaman sektoral, dan kemampuan merumuskan kebijakan publik justru berubah menjadi ruang distribusi balas jasa politik setelah pemilu 2024 usai dilangsungkan. Publik sebenarnya tahu kalau ini adalah yang sedang negeri ini hadapi. Tapi semua instrument dalam politik dan pemerintahan selalu punya cara untuk menjegal suara-suara demokrasi sampai ke telinga kepala negara.
Di negara
demokrasi, semua orang paham bahwa presiden tidak pernah benar-benar memerintah
sendirian. Di belakang satu kemenangan pilpres selalu ada satu Kongsi besar
yang mempengaruhi kekuasaan, dari gabungan partai, kelompok relawan, kalangan pengusaha,
jaringan pejabat, tim sukses, konsultan politik, sampai kelompok kepentingan
yang ikut bekerja memenangkan pertarungan baik di Tingkat daerah, ataupun Tingkat
nasional. Setelah kekuasaan diraih, seluruh jaringan itu menunggu kompensasi
politik. Jabatan menteri menjadi salah satu bentuk pembagian paling strategis
karena di situlah akses terhadap anggaran, proyek, pengaruh birokrasi, dan
panggung politik berada.
Dalam koridor ini, masalahnya dimulai ketika praktik politik balas jasa lebih dominan daripada penjaringan pejabat public berbasis kompetensi. Kabinet Prabowo memperlihatkan gejala itu cukup jelas. Banyak nama lebih dikenal publik bukan karena kapasitas kebijakan atau prestasi institusional, tetapi karena kontroversi pernyataan, kedekatan politik, atau performa komunikasi yang terasa seperti juru bicara informal presiden, yang ikut membantu dan melakukan klarifikasi atas pernyataan-pernyatan Presiden yang terkadang ‘terselip lidah’ dan mmebangkitkan amarah publik.
Bahlil Lahadalia misalnya. Sebagai Menteri Investasi di era sebelumnya dan kini tetap menjadi salah satu figur penting yang tampil di panggung kekuasaan periode kepemimpinan Prabowo Subianto, Bahlil lebih sering tampil dengan gaya komunikasi populis dan defensif ketimbang menjelaskan arah investasi nasional secara substantif. Hilirisasi memang terus dijadikan slogan utama, tetapi publik jarang benar-benar mendapat gambaran jangka panjang soal ketahanan industri nasional, dampak hilirisasi produk ekstraktif pada lingkungan, atau ketimpangan distribusi keuntungan investasi. Yang lebih sering muncul justru narasi bahwa semua kritik terhadap investasi dianggap anti pembangunan.
Natalius
Pigai juga memunculkan problem yang sama di Kementerian HAM. Dalam beberapa
momen, pernyataannya justru memicu kontroversi dan polemic dalam pernyataan public
di hadapan pers dan aktivis HAM. Meski memiliki latar sebagai komisioner HAM,
justru performanya dalam lingkup institusi HAM tidak menampakan ketenangan
seorang menteri yang memegang isu sensitif tentang hak asasi manusia. Seperti
ia menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang aman dari begal dengan
menyatakan kalau dia sering bepergian naik motor ke luar rumah dan tidak pernah
kena begal. Padahal posisi Menteri HAM adalah posisi vital, Dimana kemampuan
untuk membaca konflik sosial harus dilakukan secara berhati-hati, demi membangun
kepercayaan public pada kelembagaan yang ia emban, dan menjaga kredibilitas
negara di tengah sorotan internasional. Tetapi yang terlihat justru sering kali
respons politis yang defensif dan reaktif pada kritik Masyarakat terkait
kinerjanya.
Atau,
salah satu Menteri yang berasal dari partai yang sama dengan presiden Prabowo,
yakni Sugiono yang hari ini menjabat sebagai Menteri Luar Negeri juga
memunculkan tanda tanya besar dari public, terkait kompetensinya dalam
melakukan diplomasi bilateral dan multilateral. Diplomasi Indonesia hari ini
menghadapi situasi global paling rumit dalam dua dekade terakhir. Perang
Rusia-Ukraina, konflik Iran-Israel, rivalitas AS-China, sampai ancaman krisis
ekonomi global baru. Tetapi wajah diplomasi Indonesia justru tidak menampilkan diri
untuk menyatakan sikap Indonesia secara politik maupun diplomatik. Haluan arah hubungan
diplomasi Indonesia makin redup dan terlihat kehilangan arah strategis.
Indonesia terlihat lebih banyak menjadi penonton geopolitik dibanding pemain
yang memiliki posisi strategis di Kawasan Asia Tenggara.
Hal serupa
terlihat pada Widiyanti Putri Wardhana di sektor pariwisata. Di tengah kondisi
ekonomi global yang tidak stabil, pariwisata Indonesia membutuhkan lompatan
serius dalam infrastruktur, kualitas SDM, dan strategi budaya jangka panjang.
Tetapi kementerian justru lebih sering sibuk di level seremoni dan pencitraan
digital dibanding memperlihatkan grand strategy yang konkret.
Tanpa
bertujuan membatasi kritik hanya pada empat nama, tapi inilah beberapa nama
yang cukup memunculkan kritik yang luas di Tengah Masyarakat. Gabungan antara
skeptisisme publik di awal masa pemerintahan Prabowo Subianto, sepertinya masih
belum tuntas hingga hari ini. Kinerja Menteri-menteri yang ditunjuk langsung
oleh presiden, belum menampilkan kinerja di angka yang memuaskan bagi publik.
Inti dari
tulisan ini bukan melakukan auto-kritik hanya pada satu atau dua nama, tapi
menjelaskan kalau dari besarnya jumlah pejabat di posisi Kementerian yang cukup
gemuk, nyatanya tidak menjamin efektivitas pada penyelenggaraan pemerintah.
Tidak
kalah terasa mengkhawatirkan adalah pola besar di balik kabinet itu sendiri.
Banyak menteri terlihat bekerja bukan sebagai perumus kebijakan negara, tetapi
seperti perpanjangan komunikasi politik presiden. Setiap kritik terhadap
pemerintah langsung dijawab dengan pembelaan normatif. Setiap masalah dibungkus
optimisme. Setiap kegagalan dipoles menjadi narasi keberhasilan yang “sedang
berproses”. Akibatnya, kementerian kehilangan karakter institusionalnya.
Menteri
seharusnya bekerja sebagai administrator negara yang berpikir soal solusi
publik, bukan sekadar penjaga citra presiden semata. Tetapi ketika posisi
menteri terlalu bergantung pada loyalitas politik kepada presiden, maka yang
lahir bukan keberanian memberi masukan kritis, melainkan budaya ABS, atau
pedagogi politik yang berarti “asal bapak senang”.
Padahal
menjalankan negara tidak bisa hanya dengan dasar loyalitas. Masalah ekonomi
tidak selesai lewat konferensi pers dengan janji-janji dan kata-kata penuh
optimistisme. Diplomasi tidak cukup dijalankan dengan retorika normatif. HAM
tidak bisa diurus dengan respons emosional yang enggan dianggap inkompeten. Dan
investasi tidak bisa hanya dibangun lewat slogan hilirisasi tanpa pengawasan
serius terhadap dampak sosial dan lingkungan.
Juga, yang
tidak kalah berbahaya lagi, kabinet berbasis balas jasa biasanya menghasilkan
dua hal sekaligus, ialah inkompetensi dan ketergantungan politik. Karena
seseorang yang naik jabatan akibat kedekatan politik cenderung lebih sibuk
menjaga loyalitas kepada pusat kekuasaan dibanding menjaga kualitas
institusinya sendiri. Di titik itu, kementerian berubah menjadi alat
stabilisasi politik presiden, bukan alat pelayanan public yang memuaskan bagi
rakyat.
Indonesia sebenarnya pernah berkali-kali mengalami situasi seperti ini. Pada banyak era pemerintahan, kabinet sering dipenuhi kompromi politik untuk mengamankan koalisi. Tetapi dalam situasi global hari ini, pola semacam itu menjadi jauh lebih berbahaya. Dunia sedang bergerak ke fase geopolitik keras, tekanan ekonomi global meningkat, konflik internasional membesar, dan ancaman krisis pangan serta energi makin nyata. Negara membutuhkan menteri dengan kapasitas strategis tinggi, bukan sekadar figur loyalis yang pandai membela pemerintah di depan kamera.
Karena
jabatan menteri bukan hadiah kemenangan pilpres. Ia adalah posisi yang
menentukan nasib jutaan orang Indonesia. Sikap politik akan sangat menentukan
bagaimana sikap Masyarakat dalam menghadapi kekuasaan. Namun, ketika terlalu
banyak kursi kabinet diisi atas dasar balas jasa politik, publik akhirnya sulit
melihat pemerintah sebagai tim teknokrat negara. Yang terlihat justru seperti
koalisi besar para pemegang kepentingan yang sedang berbagi pengaruh di sekitar
presiden. Mungkin itu sebabnya banyak menteri hari ini lebih populer karena
kontroversi dan pernyataan mereka, bukan karena kebijakan yang benar-benar
mengubah hidup rakyat.
