"​Rakyat Desa Tak Pakai Dolar", Pernyataan Presiden yang Menjadi Olokan Negara Lain

Dalam ekonomi modern, masyarakat tidak harus memegang dolar untuk terkena dampak penguatan dolar. Harga pupuk, obat-obatan, BBM, bahan baku pangan, ..

Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah (ANTARA FOTO/Fathul Habib Sholeh)

Ada sesuatu yang terasa ganjil di hati sekaligus memalukan ketika pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal “rakyat desa tidak menggunakan dolar” bukan hanya menjadi perdebatan di dalam negeri, tetapi juga diberitakan media luar negeri seperti  Astro AWANI dari Malaysia.

Bukan karena media asing tidak boleh memberitakan Indonesia. Itu hal biasa. Tetapi ada makna simbolik yang lebih dalam ketika ucapan kepala negara tentang pelemahan mata uang nasional justru terdengar cukup kontroversial hingga menjadi perhatian regional. Dan yang membuatnya terasa janggal adalah konteksnya.

Pernyataan itu muncul di tengah pelemahan rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.500 per dolar AS. Dalam situasi seperti itu, publik biasanya berharap pemimpin menunjukkan sensitivitas ekonomi, kehati-hatian berbicara, dan kemampuan membaca keresahan masyarakat. Namun yang muncul justru narasi santai bahwa masyarakat desa tidak perlu khawatir karena mereka tidak menggunakan dolar dalam kehidupan sehari-hari.

Kalimat itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan publik. Tetapi ketika dipotong menjadi headline media internasional, maknanya berubah. Ia terdengar seperti penyederhanaan berlebihan terhadap persoalan ekonomi yang kompleks. Dan di situlah letak masalahnya.

Dalam ekonomi modern, masyarakat tidak harus memegang dolar untuk terkena dampak penguatan dolar. Harga pupuk, obat-obatan, BBM, bahan baku pangan, elektronik, hingga biaya distribusi sangat dipengaruhi nilai tukar. Ketika rupiah melemah, efeknya memang tidak langsung terasa dalam sehari, tetapi perlahan masuk ke seluruh rantai kehidupan masyarakat, termasuk desa.

Karena itu, pernyataan “rakyat desa tidak menggunakan dolar” terasa problematik bukan semata karena isi kalimatnya, tetapi karena ia menunjukkan cara negara menjelaskan krisis kepada rakyat. Alih-alih mengakui kompleksitas persoalan ekonomi global, negara justru memilih bahasa simplifikasi populis. Dan mungkin itulah yang membuat media regional tertarik memberitakannya.

Sebab bagi negara tetangga, ucapan kepala negara bukan sekadar komentar biasa. Ia dibaca sebagai cerminan kualitas kepemimpinan, cara pemerintah menghadapi tekanan ekonomi, sekaligus gambaran bagaimana sebuah negara merespons krisis.

Di dunia politik modern, persepsi internasional penting. Investor membaca pidato pemimpin. Media asing membaca arah kebijakan. Negara lain mengamati apakah sebuah pemerintahan tampak tenang karena memang stabil, atau justru terlihat meremehkan persoalan. Masalahnya, ketenangan dan pengabaian sering terdengar mirip. Dan publik Indonesia tampaknya mulai gelisah karena perbedaan itu semakin kabur.

Sebab di saat Presiden berbicara santai di depan publik, Bank Indonesia justru harus bekerja keras menjaga stabilitas rupiah. Suku bunga dinaikkan, intervensi pasar dilakukan, cadangan devisa digunakan, dan tekanan global terus meningkat akibat konflik geopolitik serta penguatan dolar AS. Artinya, situasinya tidak sesederhana “orang desa tidak belanja dolar.”

Pernyataan seperti ini juga memperlihatkan problem komunikasi politik Indonesia hari ini: terlalu sering mengandalkan retorika populis untuk menjelaskan persoalan struktural.

Rakyat memang membutuhkan ketenangan, tetapi mereka juga membutuhkan kejujuran. Karena masyarakat hari ini tidak sebodoh yang dibayangkan elit politik. Mereka tahu harga barang naik. Mereka tahu biaya hidup makin berat. 

Mereka tahu pelemahan rupiah akan berdampak ke banyak sektor. Dan ketika negara menjawab keresahan itu dengan narasi yang terlalu sederhana, yang muncul justru kesan meremehkan kecemasan publik.

Ironisnya, pernyataan tersebut disampaikan saat peresmian Museum Marsinah, nama seorang buruh perempuan yang menjadi simbol ketidakadilan ekonomi dan politik pada era Orde Baru.

Ada paradoks yang terasa kuat di sana. Di satu sisi, negara berbicara tentang keberpihakan pada rakyat kecil. Namun di sisi lain, persoalan ekonomi rakyat dijelaskan dengan logika yang justru terasa jauh dari realitas keseharian masyarakat.

Mungkin karena itu banyak orang merasa tidak nyaman ketika video tersebut diberitakan media luar negeri. Bukan semata karena takut dipermalukan, tetapi karena kita sadar bahwa ucapan pemimpin mencerminkan wajah bangsa di mata dunia. Dan di era digital, satu kalimat bisa menjadi representasi internasional tentang bagaimana sebuah negara berpikir.

Tentu tidak adil jika seluruh persoalan ekonomi Indonesia dibebankan pada satu pernyataan. Tekanan terhadap rupiah memang dipengaruhi situasi global, seperti kebijakan suku bunga The Fed, perang geopolitik, hingga arus modal asing yang keluar dari negara berkembang.

Namun justru karena situasinya serius, publik berharap komunikasi negara juga serius. Sebab dalam masa krisis, kata-kata pemimpin bukan hanya soal pencitraan. Ia menentukan kepercayaan publik, kepercayaan pasar, bahkan martabat negara itu sendiri.

Dan mungkin yang paling menyedihkan bukanlah fakta bahwa media Malaysia memberitakan ucapan tersebut. Tapi, yang paling menyedihkan adalah ketika banyak rakyat Indonesia sendiri mulai merasa bahwa pernyataan itu memang terdengar aneh untuk diucapkan oleh seorang kepala negara di tengah pelemahan mata uang nasional.

Posting Komentar