Bukan Sekadar Demo, Tapi Saksi Gugupnya Aparat dan Penguasa pada Kritik

Seorang demonstran mengenakan masker bergambar wajah Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam aksi protes anti-pemerintah di Jakarta. (Dok. Dimas Ardian via BBC News)

Jum'at 12 Juni 2026, BEM seluruh fakultas UI bersama mahasiswa UPN Veteran Jakarta dan IPB turun ke jalan membawa lima tuntutan yang cukup keras kepada pemerintah. Mereka menuntut penghentian pemborosan APBN, penurunan harga kebutuhan pokok dan BBM, penghentian Program Makan Bergizi Gratis serta proyek Koperasi Desa Merah Putih, penghentian militerisme di ruang sipil, sampai mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak dari persoalan yang ada. Dan jujur saja, tuntutan itu tidak lahir dari ruang kosong. Itu lahir dari suasana publik yang memang mulai lelah melihat negara terlalu sibuk membangun citra optimisme sementara hidup masyarakat terasa makin berat.

Namun, bahkan sebelum mahasiswa benar-benar sampai ke titik aksi, aparat sudah menunjukkan respons yang sangat politis. Massa yang berangkat dari Depok sekitar pukul 10.30 WIB awalnya ingin bergerak menuju Bundaran HI. Tapi ketika sampai di kawasan Semanggi, rombongan bus mahasiswa dihadang lalu dialihkan. Mereka tidak diarahkan ke Bundaran HI, melainkan dibelokkan ke arah Dukuh Atas sampai akhirnya bergerak menuju DPR. Akibatnya massa sempat tercerai-berai dan tertahan di beberapa titik seperti sekitar TVRI dan Menara BCA.

Polda Metro Jaya menyebut Bundaran HI bukan tempat yang tepat untuk demonstrasi karena kawasan itu merupakan pusat aktivitas masyarakat dan roda ekonomi. Sekilas terdengar masuk akal. Tapi kalau dipikir lebih jauh, logika seperti ini berbahaya untuk demokrasi. Karena artinya negara mulai menempatkan stabilitas visual dan ekonomi kota lebih penting daripada hak publik untuk menunjukkan kemarahannya secara terbuka. Padahal demonstrasi memang tidak pernah lahir untuk membuat apparat nyaman, karena inilah hak konstitusional.

Mahasiswa tidak turun ke jalan untuk jadi dekorasi demokrasi. Mereka turun ketika merasa jalur formal tidak lagi cukup didengar. Dan dalam sejarah Indonesia, mahasiswa selalu muncul di momen-momen seperti ini. Tahun 1966, 1974, sampai 1998, mahasiswa hampir selalu menjadi kelompok pertama yang berani mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah ketika negara mulai terlalu percaya pada narasinya sendiri. Hari ini atmosfer yang terbentuk mulai terasa taka sing dengan peristiwa-peristiwa dalam Sejarah Gerakan mahasiswa.

Pemerintah saat ini terus bicara soal pembangunan, proyek besar, pertumbuhan ekonomi, dan masa depan Indonesia Emas. Tetapi di kehidupan nyata, masyarakat menghadapi tekanan hidup yang semakin konkret. Harga kebutuhan pokok naik. BBM menjadi beban. Lapangan kerja makin tidak pasti. Anak muda makin sulit membayangkan masa depan yang stabil. Ada jurang yang makin lebar antara narasi negara dan pengalaman hidup rakyat sehari-hari.

Tuntutan mahasiswa soal APBN dan program-program populis sebenarnya sangat relevan. Mereka sedang mempertanyakan prioritas negara. Kenapa pemerintah terlihat sangat cepat membangun proyek yang kuat secara pencitraan, tetapi persoalan dasar seperti daya beli masyarakat justru terasa stagnan? Kenapa negara terlihat begitu percaya diri bicara masa depan besar, sementara banyak rakyat bahkan sibuk bertahan untuk hidup bulan depan?

Kritik terhadap Program Makan Bergizi Gratis harus dibaca dalam konteks itu. Mahasiswa bukan sedang menolak anak-anak mendapat makanan. Mereka sedang mempertanyakan arah kebijakan yang terasa terlalu fokus pada proyek populis besar, sementara masalah struktural ekonomi masyarakat belum benar-benar disentuh. Sebab rakyat tidak hanya butuh bantuan sesaat. Rakyat butuh hidup yang stabil dan masuk akal untuk dijalani.

Tidak kalah penting, ialah tuntutan soal militerisme sipil. Banyak orang mungkin menganggap isu ini terlalu idealis, padahal gejalanya makin terasa. Negara hari ini terlihat semakin sensitif terhadap kritik. Bahasa stabilitas, ketertiban, loyalitas, dan pengendalian semakin dominan. Demonstrasi dipandang mengganggu ketenangan. Kritik dianggap ancaman terhadap normalitas. Dan tindakan aparat hari ini memperkuat kesan itu.

Mahasiswa tidak dibubarkan secara brutal, memang. Tapi mereka diarahkan, dipecah, dan dijauhkan dari titik paling strategis di pusat kota. Ini bentuk kontrol yang lebih halus, tetapi pesannya tetap jelas, kalau aparat dan pemeritah ingin kritik tetap ada, asal jangan terlalu terlihat publik.

Padahal ruang publik dalam demokrasi memang seharusnya menjadi tempat rakyat menunjukkan keresahan. Bundaran HI bukan cuma pusat ekonomi. Ia juga simbol ruang publik nasional. Ketika mahasiswa tidak diberi ruang di sana dengan alasan “mengganggu ekonomi”, publik berhak bertanya: apakah negara mulai melihat kritik warga sebagai ancaman terhadap citra stabilitasnya sendiri?

Sebagai orang yang memahami kultur gerakan mahasiswa, hal yang selalu perlu diingat pemerintah, bahwa  mahasiswa biasanya bukan kelompok pertama yang marah. Mereka hanya kelompok pertama yang cukup berani menyuarakan kemarahan yang sebenarnya sudah tumbuh diam-diam di masyarakat. Karena itu yang perlu dibaca dari aksi hari ini bukan cuma jumlah massa atau titik demonya. Yang perlu dibaca adalah suasana sosial di baliknya. Ketika mahasiswa kembali bicara soal harga hidup, soal pemborosan negara, soal pemerintah yang dianggap terlalu defensif terhadap kritik, itu tanda ada rasa kecewa yang mulai menumpuk.

Seperti demonstrasi massa pada biasanya, ketika mahasiswa mulai kembali turun ke jalan membawa isu biaya hidup, kritik terhadap pemborosan negara, dan rasa frustrasi terhadap pemerintah yang dianggap makin defensif terhadap kritik, persoalannya sudah jauh lebih besar daripada sekadar demonstrasi satu hari. Jika mungkin hari ini negara merasa situasi masih terkendali. Lalu, berapa banyak orang yang diam-diam mulai merasa mahasiswa benar?

Posting Komentar