Menghardik Tiyo Ardianto atau Ikut Memperjuangkan Nasib Sendiri

Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto (Dok. UGM)

Kehidupan politik Indonesia kerap menampilkan dinamika antara pejabat dan Masyarakat. Pejabat yang memang kta tahu bekerja dan dibayar oleh kas negara. Tapi mereka melupakan kalau semua kas negara itu tidak akan terkumpul jika warga negara tidak membayarkan pajak yang ditarik dari penghasilan dan konsumsi masyarakat.

Di satu sisi, masyarakat mengeluhkan harga kebutuhan pokok yang terus naik. Mereka mengeluhkan lapangan kerja yang semakin sulit. Mereka mengeluhkan gelombang PHK yang menghantui berbagai sektor. Mereka mengeluhkan pendidikan yang semakin mahal, biaya hidup yang semakin berat, dan masa depan yang terasa semakin tidak pasti.

Namun di sisi lain, ketika ada orang yang berusaha menyuarakan persoalan-persoalan tersebut secara terbuka, sebagian dari mereka justru berdiri di barisan yang paling depan untuk mencibir, meremehkan, bahkan menghardik orang tersebut. Kasus Kemunculan Tiyo Ardianto dalam mempersoalkan berbagai kebijakan bermasalah memperlihatkan kontradiksi itu dengan sangat jelas.

Selama ini, Tiyo dikenal sebagai salah satu aktivis mahasiswa yang konsisten mengangkat isu-isu yang sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat biasa. Ia berbicara tentang kemiskinan. Ia berbicara tentang pendidikan. Ia berbicara tentang prioritas anggaran negara. Ia berbicara tentang kualitas demokrasi dan kebijakan publik. Dengan kata lain, ia berbicara tentang hal-hal yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kehidupan jutaan rakyat Indonesia.

Namun yang ia terima bukan hanya kritik terhadap gagasannya. Ia juga menerima intimidasi, ancaman, fitnah, hingga dugaan pengintaian terhadap dirinya. Ironisnya, di tengah situasi itu, masih ada sebagian masyarakat yang memilih menyerangnya dengan tuduhan bahwa ia hanya sedang mencari panggung atau mencari popularitas.

Lalu, jika memang Tiyo sedang memperjuangkan isu-isu yang juga menyangkut kehidupan rakyat kecil, mengapa sebagian besar rakyat kecil justru ikut berdiri di barisan yang menyerangnya?

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah. Kekuasaan yang kuat hampir selalu bertahan bukan hanya karena memiliki sumber daya yang besar, tetapi juga karena berhasil membuat sebagian masyarakat memandang curiga orang-orang yang memperjuangkan kepentingan mereka sendiri. Akibatnya, kemarahan yang seharusnya diarahkan kepada akar persoalan justru dialihkan kepada mereka yang berusaha mengungkap persoalan tersebut.

Di sinilah ironi itu menjadi begitu tragis bagi para pejuang demokrasi. Banyak orang yang hari ini mengeluhkan kondisi ekonomi, merasa terhimpit oleh kenaikan biaya hidup, khawatir kehilangan pekerjaan, atau kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, justru menghabiskan energinya untuk menyerang orang-orang yang sedang mengangkat persoalan yang sama. Mereka marah terhadap gejala, tetapi memusuhi mereka yang berusaha membahas penyebabnya.

 

Padahal tidak ada satu pun aktivis mahasiswa yang bisa memperbaiki keadaan sendirian. Tidak ada satu pun pejuang demokrasi yang mampu mengubah kebijakan publik hanya dengan keberanian pribadi. Perubahan selalu membutuhkan keterlibatan masyarakat yang lebih luas. Ia membutuhkan kesadaran bahwa persoalan publik tidak akan selesai jika seluruh beban perjuangan diserahkan kepada segelintir orang yang bersedia mengambil risiko.

Karena itu, pertanyaan yang perlu diajukan kepada diri sendiri bukanlah apakah kita menyukai Tiyo Ardianto atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah kita lebih memilih diam menghadapi tekanan hidup yang semakin berat sambil menghardik mereka yang bersuara, atau ikut terlibat dalam memperjuangkan persoalan yang sebenarnya juga menentukan masa depan kita sendiri.

Tentu setiap orang berhak berbeda pendapat dengan Tiyo. Demokrasi memang menyediakan ruang untuk itu. Kritik terhadap kritik adalah hal yang wajar. Namun ada perbedaan besar antara tidak setuju dengan gagasan seseorang dan meremehkan perjuangan yang sedang ia lakukan. Ada perbedaan besar antara membantah argumen dan mencemooh keberanian.

Sebab kenyataannya, sebagian besar orang yang menuduh aktivis "cari panggung" tidak pernah benar-benar bersedia mengambil risiko yang sama. Mereka tidak harus menghadapi ancaman. Mereka tidak harus menghadapi intimidasi. Mereka tidak harus menghadapi kemungkinan bahwa keluarga mereka ikut menjadi sasaran tekanan. Mereka tetap bisa menjalani hidup dengan relatif aman sambil memberikan penilaian dari kejauhan. Sementara itu, orang-orang seperti Tiyo berdiri di ruang publik dengan segala konsekuensinya.

Tidak berarti Tiyo selalu benar. Tidak berarti semua kritiknya harus diterima. Namun setidaknya ia memilih untuk melakukan sesuatu ketika banyak orang memilih tidak melakukan apa-apa.

Roda Sejarah tidak diubah oleh mereka yang hanya mengeluh atas buruknya Nasib mereka tapi tak melakukan apa-apa. Sejarah lebih sering berubah karena ada orang-orang yang berani menyuarakan ketidakadilan meskipun menghadapi risiko yang tidak kecil. Pertanyaan bagi masyarakat bukanlah apakah mereka harus menjadi Tiyo Ardianto. Tidak semua orang harus menjadi aktivis atau pemimpin gerakan.

Lalu, ketika ada orang yang memperjuangkan isu yang juga menyangkut kehidupan kita, apakah kita akan membantu mendorong perjuangan itu, atau justru ikut menariknya ke bawah?

Karena jika pilihan yang diambil adalah terus diam, terus mengeluh, dan terus menghardik mereka yang bersuara, maka apa orang-orang itu siap apabila kondisi yang dikeluhkan hari ini tetap bertahan esok hari? Bukan karena tidak ada yang berusaha memperjuangkannya, melainkan karena terlalu banyak orang memilih menjadi penonton ketika perjuangan itu sedang berlangsung.

Posting Komentar