Influencer Dadakan, Ketika Nama Kucing Lebih Penting daripada Nasib Rakyat

Mantan Ketua BEM UGM periode 2025, Tiyo Ardianto. (Dok. Suara.com/Hiskia)

Barangkali tidak ada gambaran yang lebih tepat untuk menjelaskan kemunduran kualitas ruang publik Indonesia hari ini selain kenyataan bahwa sebagian orang tampak lebih bersemangat membahas nama seekor kucing milik Tiyo Ardianto daripada membahas kehidupan jutaan manusia Indonesia yang saat ini terhimpit oleh ekonomi dan instabilitas harga kebutuhan pokok.

Di tengah situasi ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang tidak ringan, ketika biaya hidup terus menjadi keluhan sehari-hari, ketika lapangan pekerjaan terasa semakin kompetitif, ketika pendidikan masih menjadi kemewahan bagi sebagian keluarga, dan ketika banyak warga mempertanyakan arah kebijakan negara, tiba-tiba ruang publik disesaki oleh perdebatan mengenai sesuatu yang nyaris tidak memiliki relevansi terhadap persoalan-persoalan tersebut adalah nama kucing milik Tiyo Ardianto. Fenomena ini bukan sekadar ironis, tapi juga menyedihkan.

Sebab yang sedang dipertontonkan bukanlah perdebatan intelektual, melainkan sebuah upaya sistematis untuk menggeser perhatian publik dari substansi menuju simbol, dari persoalan menuju personalitas, dari kritik terhadap kebijakan menuju penghakiman terhadap individu.

Tiyo Ardianto selama ini dikenal karena keberaniannya menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan publik. Kritiknya bisa diperdebatkan. Argumentasinya bisa dibantah. Datanya bisa diuji. Itulah cara kerja demokrasi yang sehat. Namun yang menarik, banyak pihak yang tampaknya tidak tertarik memasuki wilayah perdebatan tersebut.

Kelompok Iinfluencer dadakan yang tidak pernah membedah substansi kritik Tiyo Ardianto. Mereka tidak menawarkan data tandingan. Mereka tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, mereka justru menghabiskan energi untuk membicarakan hal-hal yang sama sekali berada di luar inti persoalan.

Nama kucing menjadi kontroversi. Potongan video menjadi bahan analisis. Cuplikan beberapa detik dijadikan dasar penilaian moral. Tiba-tiba bermunculan orang-orang yang mengangkat dirinya sebagai wasit etika nasional, seolah republik ini sedang menghadapi krisis moral terbesar dalam sejarahnya hanya karena seorang mahasiswa memberi nama tertentu kepada hewan peliharaannya.

Saya menulis ini dengan ironi bahwa argument dan kemarahan mereka pada penamaan kucing tidaklah penting, tapi selektivitas kemarahan mereka pada kritik dari sipil tanpa pernah sekalipun menjabarkan gagal kebijakan yang pemerintah lakukan. Apakah moral yang sama tidak bisa diterapkan kepada pemerintah yang sering salah mengambil Langkah kebijakan hingga menyengsarakan rakyat?

Mereka tampak sangat sensitif terhadap hal simbolik seperti nama, tetapi tidak menunjukkan sensitivitas yang sama terhadap penderitaan sosial. Mereka begitu bersemangat mengoreksi seorang mahasiswa, tetapi nyaris tidak pernah menunjukkan energi yang sama untuk mengoreksi kekuasaan.

Mereka berbicara panjang mengenai kesopanan, namun tidak pernah berbicara panjang mengenai kemiskinan, ketimpangan, pendidikan, atau persoalan-persoalan yang secara nyata memengaruhi kehidupan rakyat. Apakah mereka tidak peduli Nasib rakyat? Ataukah mereka hanya melaksakan tugas bikin video dengan imbalan tunai dari orang yang menugaskan?

Lalu, mengapa keberanian moral mereka selalu menemukan sasarannya pada warga yang kritis, tetapi begitu sering kehilangan arah ketika berhadapan dengan kekuasaan?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul akibat perlakuan mereka menunjukkan adanya kontradiksi yang tidak bisa disembunyikan. Banyak dari mereka yang hari ini menuduh Tiyo Ardianto sebagai sosok yang mencari panggung justru muncul ke ruang publik melalui isu yang sama. Mereka membuat konten, mengumpulkan perhatian, mengejar interaksi, dan membangun relevansi melalui kontroversi yang mereka ciptakan sendiri. Mereka menuduh orang lain haus sorotan sambil berdiri tepat di bawah lampu sorot yang mereka nikmati.

Padahal jika seseorang sungguh ingin mencari popularitas, ada banyak cara yang lebih aman daripada mengkritik kekuasaan. Tidak ada keuntungan yang jelas dari menerima ancaman, intimidasi, fitnah, hingga pengawasan terhadap kehidupan pribadi. Tidak ada jalan pintas menuju ketenaran yang mengharuskan seseorang menghadapi tekanan seperti itu. Karena itu, tuduhan bahwa setiap kritik terhadap kekuasaan lahir dari hasrat mencari panggung sering kali lebih mencerminkan kemalasan berpikir daripada kemampuan menganalisis.

Juga, apa yang terjadi dalam kasus ini menunjukkan cara kerja propaganda yang sangat tua tetapi masih terus digunakan hingga hari ini. Dalam sejarah politik modern, teknik semacam ini dikenal sebagai *cherry-picking*, yakni mengambil satu potongan kecil informasi yang menguntungkan suatu narasi sambil mengabaikan keseluruhan konteks yang jauh lebih besar. Publik diajak memusatkan perhatian pada hal yang remeh agar melupakan hal yang penting. Sebuah simbol diperbesar sedemikian rupa sampai menutupi persoalan yang sesungguhnya. Akibatnya, diskusi publik kehilangan orientasi.

Masyarakat tidak lagi bertanya apakah kritik yang disampaikan Tiyo mengenai pendidikan memiliki dasar yang kuat. Mereka tidak lagi membahas apakah persoalan kemiskinan yang ia angkat memang nyata. Mereka tidak lagi memperdebatkan efektivitas kebijakan publik yang menjadi sasaran kritiknya. Semua itu tenggelam di bawah gelombang perdebatan yang sama sekali tidak menyentuh akar masalah.

Padahal inti dari demokrasi bukanlah kemampuan masyarakat untuk memperdebatkan simbol. Inti demokrasi adalah kemampuan masyarakat mengawasi kekuasaan. Ketika energi publik habis untuk membahas nama kucing, sementara kebijakan publik lolos dari pengawasan yang sama ketatnya, maka yang sedang mengalami kemunduran bukan hanya kualitas diskusi politik. Yang sedang mengalami kemunduran adalah fungsi kewarganegaraan itu sendiri.

Kita akhirnya hidup dalam situasi yang paradoks. Terlalu banyak orang ingin menjadi komentator moral. Terlalu sedikit yang bersedia menjadi pengawas kekuasaan. Terlalu banyak orang berani menghakimi seorang mahasiswa. Terlalu sedikit yang berani menguji mereka yang memiliki kewenangan mengelola sumber daya, anggaran, dan nasib jutaan rakyat.

 

Dalam kondisi seperti itu, yang perlu dipertanyakan bukanlah nama kucing milik Tiyo Ardianto. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa begitu banyak orang lebih tertarik membahas nama seekor kucing daripada membahas kehidupan rakyat yang sesungguhnya.

Karena sejarah tidak pernah berubah oleh mereka yang sibuk mengomentari simbol-simbol kecil sambil mengabaikan persoalan besar. Sejarah berubah oleh mereka yang berani mengangkat kenyataan yang tidak seind, meskipun karena itu mereka harus menerima serangan, fitnah, dan intimidasi. Tiyo Ardianto mungkin tidak selalu benar. Tidak ada manusia yang selalu benar. Namun setidaknya ia memilih berbicara tentang persoalan yang memengaruhi kehidupan masyarakat luas ketika terlalu banyak orang memilih berbicara tentang hal-hal yang tidak penting.

Jika memang benar ruang publik yang lebih sibuk mengadili nama kucing daripada mengadili kebijakan yang berdampak pada rakyat, barangkali persoalan terbesar bangsa ini bukan lagi siapa yang salah atau siapa yang benar. Persoalan terbesarnya adalah hilangnya kemampuan untuk membedakan antara substansi dan distraksi, antara keberanian dan pertunjukan, antara kritik yang lahir dari kepedulian dan kegaduhan yang lahir dari kebutuhan akan perhatian.

Posting Komentar