Rocky Gerung: Prabowo Curiga Data Menteri Hanya Asal Bapak Senang

Prabowo mengatakan ia kerap kesulitan mendapatkan laporan yang benar-benar akurat dan menegaskan tidak akan menoleransi praktik manipulasi data
Rocky Gerung saat menjadi Dosen di Departemen Filsafat, Fakultas Humaniora Universitas Indonesia (Dok. Republika - Yogi Ardhi)

esdp.cc - Pengamat politik Indonesia Rocky Gerung menilai kemarahan Presiden Prabowo Subianto terhadap para menterinya mencerminkan kekhawatiran di lingkaran pemerintahan mengenai akurasi laporan yang disampaikan kepada kepala negara.

Rocky mengatakan teguran keras presiden menunjukkan adanya praktik laporan yang berpotensi hanya bertujuan menyenangkan atasan, yang dalam politik Indonesia dikenal sebagai budaya asal bapak senang (ABS).

“Presiden memberi sinyal yang sangat keras kepada para menteri: jangan kasih saya data yang cuma bikin presiden senang. Itu yang disebut budaya ABS, dan Prabowo terlihat mulai jengkel dengan praktik seperti itu,” kata Rocky dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Rocky Gerung Official

Ia menduga kemarahan presiden dipicu oleh informasi alternatif yang berbeda dengan laporan resmi yang diterima dari para pembantunya.

“Saya kira Prabowo sudah mendapat bocoran atau data pembanding yang membuat dia curiga bahwa angka-angka resmi tidak sepenuhnya menggambarkan keadaan di lapangan,” ujarnya.

Rocky mencontohkan perbedaan data terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menurutnya kerap muncul antara laporan pemerintah dan angka yang disampaikan kalangan pengusaha, termasuk Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

“Data PHK misalnya, pemerintah menyebut sekian, tapi dari asosiasi pengusaha angkanya bisa jauh lebih besar. Bisa dua sampai tiga kali lipat dari angka resmi,” kata dia.

Selain itu, Rocky mempertanyakan klaim pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sering disebut berada di kisaran 5 hingga 6 persen.

“Kalau angka pertumbuhan ekonomi disebut 5–6 persen, itu harus diuji juga. Apakah itu betul-betul terasa di masyarakat atau hanya angka di laporan,” ujarnya.

Rocky juga menyinggung hasil survei yang menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap presiden hingga 80–90 persen. Menurutnya, angka tersebut perlu ditinjau secara kritis agar tidak sekadar menjadi instrumen komunikasi politik.

“Survei yang mengatakan likability presiden sampai 80 atau 90 persen itu juga harus dibaca hati-hati. Jangan sampai itu hanya menjadi alat public relation, bukan public opinion yang sebenarnya,” katanya.

Sebagaimana diketahui, komentar Rocky muncul setelah Presiden Prabowo Subianto secara terbuka memperingatkan jajaran pemerintahannya agar tidak menyampaikan laporan yang dimanipulasi atau dipoles demi menyenangkan pimpinan.

Peringatan itu disampaikan dalam acara peringatan satu tahun berdirinya Danantara di Jakarta pada Rabu (11/3/2026).

Prabowo mengatakan ia kerap kesulitan mendapatkan laporan yang benar-benar akurat dan menegaskan tidak akan menoleransi praktik manipulasi data.

“Saya susah dapat laporan. Mudah-mudahan ini laporan benar. Jangan main-main lagi dengan saya laporan palsu, laporan menyenangkan, laporan supaya bisa akal-akalan. Saya kasih peringatan keras ini,” kata Prabowo.

Dalam kesempatan yang sama, presiden juga menyinggung laporan mengenai kinerja pengelolaan aset negara melalui Danantara. Ia menyebut return on asset (ROA) lembaga tersebut pada 2025 meningkat lebih dari 300 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Namun lonjakan angka tersebut justru menimbulkan keraguan di pihak presiden. Ia menegaskan bahwa pengelolaan aset negara harus didasarkan pada data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Prabowo mengatakan laporan yang telah dimanipulasi sebelum sampai ke meja presiden berisiko menghasilkan keputusan kebijakan yang keliru.

Posting Komentar