Krisis dan Korosi Kebebasan, Efek Larutan Cap Demokrasi

Teror ini menandai lahirnya era "sensor" yang brutal. Jika kritik pernah dibungkam dengan jeruji besi, kini dibungkam dengan cairan korosif...
Aktivis KontraS Andrie Yunus (Foto: Amnesty Indonesia)

esdp.cc - Penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus, pasca-diskusi bertajuk "Remiliterisme", bukanlah sebuah kebetulan kriminal. Ini adalah eksekusi simbolik. Ketika argumen dibalas dengan larutan air keras, yang disaksikan bukan hanya luka pada tubuh seorang pejuang HAM, melainkan serangan terhadap jantung demokrasi. Cairan kimia itu seolah dikirim sebagai pesan berdarah dari kekuasaan yang pengecut: sebuah upaya paksa untuk mencacati nalar kritis bangsa dan menciptakan horor permanen bagi siapa pun yang berani bersuara.

Teror ini menandai lahirnya era "sensor" yang brutal. Jika kritik pernah dibungkam dengan jeruji besi, kini dibungkam dengan cairan korosif untuk meninggalkan trauma kasat mata. Mengirim pesan permanen seolah kebebasan berpendapatmu memiliki harga yang dibayar langsung dengan tubuhmu. Penggunaan air keras adalah upaya untuk melarutkan keberanian menjadi rasa takut, mengubah ruang publik yang diskursif menjadi ruang sunyi yang penuh intimidasi.

Negara berada di persimpangan jalan. Jika kasus ini kembali berakhir di tangan "pelaku lapangan" tanpa pernah menyentuh dalangnya, maka negara secara tidak langsung sedang melegitimasi terorisme domestik terhadap warga negaranya sendiri. Membiarkan impunitas terus berlanjut sama saja dengan membiarkan "budaya air keras" menjadi instrumen politik yang normal. Inilah wujud nyata dari kekhawatiran yang disuarakan Andrie: sebuah remiliterisme gaya baru di mana kekerasan fisik kembali menjadi bahasa utama dalam membungkam perbedaan.

Posting Komentar