Segera Terbit! Ed. Februari 2026. Baca laporan selengkapnya Get now!

Melawan Arus Kedangkalan: Seni Merawat Visi di Era Media yang Gamang

Kita hidup di zaman yang sangat percaya pada ukuran. Anggaran, jumlah pengikut, kecepatan produksi, grafik pertumbuhan. Hampir semua hal diukur, dihitung, dan dipresentasikan. Maka wajar jika kita juga terbiasa percaya bahwa yang besar pasti unggul, yang kaya pasti lebih siap, dan yang punya akses pasti lebih benar. Logika ini terdengar masuk akal bahkan rasional sampai kita benar-benar membuka sejarah dan membacanya tanpa terburu-buru.

Wright bersaudara tidak pernah masuk daftar orang-orang penting pada zamannya. Mereka tidak bekerja di universitas ternama, tidak dibiayai negara, tidak punya tim riset besar. Mereka hanya dua bersaudara dengan bengkel sepeda kecil, rasa ingin tahu yang keras kepala, dan kesabaran yang nyaris tidak heroik. Mereka jatuh berkali-kali, gagal berkali-kali, dan hampir tidak ada yang peduli.

Kontrol media oleh KPAI (image: Antara) 

Di waktu yang sama, Samuel Langley punya semua yang oleh dunia modern dianggap syarat keberhasilan. Dana pemerintah, reputasi ilmiah, tim ahli, dan relasi politik. Secara logika industri hari ini, Langley seharusnya menang. Tapi justru sebaliknya yang terjadi. Langley gagal, Wright bersaudara terbang.

Cerita ini sering dipadatkan menjadi slogan motivasi: “orang kecil bisa mengalahkan orang besar.” Padahal inti persoalannya lebih sunyi dan lebih manusiawi. Wright bersaudara bekerja tanpa tekanan untuk segera terlihat berhasil. Mereka tidak dikejar laporan, tidak dibebani ekspektasi publik, dan tidak perlu menjaga citra lembaga. Mereka punya satu kemewahan yang jarang dimiliki institusi besar: ruang untuk gagal dengan tenang.

Modal besar hampir selalu datang bersama ketakutan besar. Takut mengecewakan sponsor, takut dipertanyakan publik, takut kehilangan legitimasi. Dalam situasi seperti itu, kegagalan tidak lagi dianggap bagian dari proses belajar, melainkan aib yang harus dicegah. Padahal hampir semua lompatan besar dalam sejarah justru lahir dari kegagalan yang diulang dengan sabar.

Steve Jobs juga sering dikenang dengan cara yang keliru. Ia diingat sebagai ikon sukses, padahal perjalanannya penuh kekacauan. Ia bukan manajer yang rapi, bukan pebisnis yang stabil, bahkan pernah dipecat dari perusahaannya sendiri. Apple nyaris bangkrut. Tidak ada jaminan apa pun bahwa visinya akan berhasil.

Namun ada satu hal yang konsisten dari Jobs: keyakinan bahwa teknologi harus dekat dengan manusia biasa. Komputer tidak boleh hanya menjadi alat korporasi atau laboratorium, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari. Gagasan ini terdengar tidak realistis di masanya. Banyak yang bilang pasar belum siap. Tapi sejarah menunjukkan bahwa sering kali bukan pasar yang menentukan arah, melainkan mereka yang berani membaca kebutuhan manusia sebelum ia disadari secara luas.

Dari Wright bersaudara dan Jobs, kita belajar bahwa perubahan besar jarang lahir dari posisi paling nyaman. Ia lahir dari ketekunan, kesabaran, dan visi yang dijaga meski tampak tidak efisien. Lalu, di titik ini, pertanyaannya pelan-pelan bergeser: bagaimana dengan industri media hari ini?

Jika jujur, media tidak sedang kekurangan apa-apa. Teknologi tersedia, distribusi cepat, data melimpah, tim profesional ada di mana-mana. Media besar punya kantor, punya nama, punya akses ke pusat kekuasaan. Tapi justru di tengah kelengkapan itu, ada sesuatu yang terasa hilang: rasa arah.

Banyak media bekerja sangat keras setiap hari, tapi sering tidak tahu lagi untuk apa mereka bekerja. Konten diproduksi cepat, judul dipoles agar menarik, trafik dikejar mati-matian. Bukan karena jurnalisnya tidak peduli, melainkan karena struktur industrinya menuntut demikian. Iklan harus jalan, algoritma harus puas, investor harus tenang.

Di titik ini, media mulai mirip Samuel Langley. Lengkap, mapan, tapi bekerja di bawah tekanan yang membuat keberanian terasa berbahaya. Salah langkah bisa berdampak ke pendapatan. Liputan terlalu kritis bisa bikin sponsor menjauh. Narasi terlalu berani bisa menutup akses.

Maka yang dipilih adalah aman. Aman secara politik, aman secara bisnis, aman secara algoritma. Media tetap ramai, tapi makin terasa datar. Banyak berita, tapi sedikit makna. Banyak klik, tapi kepercayaan perlahan menguap.

Ironisnya, justru media kecil dan independen yang sering diremehkan karena dianggap tidak profesional kadang terasa lebih hidup. Bukan karena mereka sempurna, tetapi karena mereka masih punya ruang untuk salah. Mereka bisa belajar tanpa harus bernegosiasi dengan pemilik modal besar. Seperti Wright bersaudara, mereka bekerja dekat dengan kenyataan, bukan citra.

Tentu saja, tidak semua media kecil otomatis idealis, dan tidak semua media besar kehilangan nurani. Masalahnya bukan soal ukuran, melainkan hubungan antara visi dan struktur ekonomi. Ketika visi dikorbankan demi stabilitas jangka pendek, media perlahan kehilangan fungsinya sebagai ruang publik.

Sebagai pembaca, kita bisa merasakannya. Banyak media, tapi sedikit yang benar-benar kita tunggu. Banyak berita, tapi jarang yang membantu kita memahami dunia dengan lebih jernih. Media hadir terus, tapi sering terasa jauh dan dingin.

Steve Jobs gagal berkali-kali. Wright bersaudara jatuh berkali-kali. Yang membedakan mereka dari banyak institusi hari ini adalah mereka tidak kehilangan pertanyaan dasarnya. Mereka tahu apa yang ingin mereka ubah, meski jalannya berantakan.

Media hari ini sering kehilangan pertanyaan itu. Ia sibuk bertanya “konten apa yang laku?” tapi lupa bertanya “apa yang penting untuk diketahui publik?”. Ia sibuk membaca data, tapi lupa membaca kegelisahan sosial.

Padahal, media tidak pernah benar-benar dibutuhkan karena kecepatannya. Media dibutuhkan karena keberaniannya memberi arah. Memberi konteks. Membantu publik berpikir, bukan sekadar bereaksi.

Algoritma hanya membaca masa lalu. Pasar hanya merespons apa yang sudah populer. Tapi tugas media jika masih ingin disebut demikian adalah membuka kemungkinan masa depan. Dan itu tidak pernah bisa dicapai dengan ketakutan.

Sejarah selalu menilai dengan cara yang tenang tapi kejam. Ia tidak terlalu peduli siapa yang paling kaya, paling besar, atau paling viral. Ia hanya mencatat siapa yang bertahan pada visinya ketika visi itu tidak populer.

Jika industri media ingin tetap relevan, mungkin sudah saatnya melambat sejenak. Mengendurkan obsesi pada grafik. Mengurangi ketakutan pada kegagalan. Dan bertanya ulang, dengan jujur: kita ini mau ke mana?

Tanpa arah, modal hanya akan menjadi beban. Tanpa visi, teknologi hanya mempercepat kebingungan. Tapi dengan kesabaran dan keberanian meski kecil dan tidak rapi media masih punya kesempatan untuk kembali menjadi ruang yang hidup.

Seperti Wright bersaudara di bengkel kecilnya. Seperti Jobs dengan gagasan yang dulu dianggap tidak masuk akal. Tidak megah, tidak sempurna, tapi punya arah.

Dan dalam jangka panjang, sejarah selalu berpihak pada mereka yang punya arah.


Daftar Pustaka:

Chomsky, N. (2002). Media control: The spectacular achievements of propaganda. Seven Stories Press.

Isaacson, W. (2011). Steve Jobs. Simon & Schuster.

McCullough, D. (2015). The Wright brothers. Simon & Schuster.

McLuhan, M. (1964). Understanding media: The extensions of man. McGraw-Hill.


Posting Komentar