Segera Terbit! Ed. Februari 2026. Baca laporan selengkapnya Get now!

Kita Bukan Buta Literasi, Kita Buta Sosial!

Dalam konteks Indonesia, pendidikan kita terlalu sering berhenti pada tahap “membaca huruf” dan “mengerti isi buku” saja. Padahal realitas sosial...

Ilustrasi - Kejari Boyolali

Stop Seremonial; Mulai Paradigma Kritis

Sering kali kita mendengar narasi yang sama: Indonesia “terpuruk” dalam statistik literasi. Angka-angka tersebut selalu dipetik dari laporan internasional atau survei lokal dibaca sebagai stigma budaya bangsa yang “malas membaca buku.” Padahal, seperti dicatat beberapa pengamat literasi, masalah kita bukan sekadar kemampuan membaca huruf atau buku; literasi harus dipahami lebih luas sebagai kemampuan memahami, menganalisis, dan merespons realitas sosial secara kritis bukan sekadar teknis membaca huruf atau buku saja.

Fenomena ini bisa disebut sebagai buta bacaan sosial. Ketika masyarakat boleh saja punya kemampuan membaca huruf, bahkan statistik menunjukkan angka melek huruf yang tinggi, tetapi ketika dihadapkan pada konteks sosial yang kompleks, mereka tetap kehilangan arah. Mereka membaca permukaan saja headline, viral tweet, pernyataan pejabat tanpa mampu melihat struktur sosial yang membentuk narasi itu. Dalam istilah pedagog social, ini bukan sekadar kesalahan membaca, melainkan kegagalan dalam membaca dunia sosial.

Paradigma literasi semacam ini sudah diperingatkan oleh para pemikir pendidikan kritis, terutama oleh Paulo Freire, yang mengasumsikan bahwa literasi tidak berhenti pada kemampuan teknis membaca huruf; literasi harus menjadi sarana mengkritik struktur kekuasaan dan relasi sosial yang mengikat kehidupan masyarakat. 

Literasi sebagai Konstruksi Sosial

Kita perlu memulai dari istilah “literasi” itu sendiri. Secara tradisional, literasi dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis yang diukur melalui statistik melek huruf. Namun pemahaman semacam itu hanya lapisan paling permukaan. Literasi lebih dari sekadar kemampuan memindai kata di halaman atau layar; literasi adalah proses konstruksi sosial makna. Bahan bacaan (teks) tidak pernah netral: ia memiliki nilai, konteks, bahkan tujuan tertentu sesuai dengan apa yang ingin diproduksi oleh pengarangnya.

Cara kita membaca sesuatu mencerminkan bagaimana kita melihat dunia. Membaca tidak hanya soal huruf dan kalimat, tetapi soal hubungan antara pembaca dan struktur sosial yang lebih luas: kekuasaan, ekonomi, ideologi, budaya. Tanpa pemahaman ini, kita akan terus menjadi pembaca pasif yang terbawa arus narasi dominan. Ini adalah bentuk kebutaan sosial di mana kita bisa mengenali kata-kata, tapi kehilangan kemampuan untuk menafsirkan apa yang ada di baliknya.

Ini mengapa upaya semacam kampanye “minat baca” sering berulang seperti seremonial yang bersifat ritualistik: lomba baca, statistik pengunjung perpustakaan, puluhan ribu buku terjual di pameran buku semua terukur secara kuantitatif, tetapi lupa menanyakan apa yang dibaca dan bagaimana itu dipahami dalam konteks sosial. Kita bisa saja meningkatkan jumlah pembaca buku secara statistik, namun jika bacaan itu tidak dihubungkan dengan realitas struktural kehidupan, maka membaca justru menjadi ritual tanpa dampak kritis.

Membaca Dunia, Bukan Sekadar Teks

Paulo Freire, melalui gagasan pendidikan kritisnya, memandang literasi sebagai pintu masuk bagi pembelajaran pembebasan. Ia menolak model pendidikan tradisional yang ia sebut banking model, di mana guru “mengisi” murid dengan informasi seperti mengisi tabungan. Sebaliknya, Freire menekankan pendidikan sebagai dialog sebuah ruang di mana pembaca belajar mengenali struktur sosial, bukan hanya kata dalam buku. 

Metode problem-posing education yang dikembangkan Freire menuntut pembaca untuk tidak hanya menerima teks, tetapi juga mempertanyakan konteksnya: mengapa teks itu ditulis? Siapa yang diuntungkan dari narasi ini? Siapa yang dibungkam? Pendidikan kritis bukan sekadar mengajarkan keterampilan membaca, tetapi mengajak individu untuk membaca dunia membaca relasi kekuasaan, struktur ketimpangan, sejarah, dan peluang resistensi sosial.

Dalam konteks Indonesia, pendidikan kita terlalu sering berhenti pada tahap “membaca huruf” dan “mengerti isi buku” saja. Padahal realitas sosial di sekitar kita ketimpangan ekonomi, politik identitas, relasi etnis, monopoli media besar merupakan teks sosial yang perlu dibaca secara kritis sebelum kita beraksi. Tanpa keterampilan ini, seseorang mungkin bisa membaca buku tebal tentang ekonomi, tetapi tetap gagal melihat bagaimana struktur ekonomi mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat di kampung-kampung dan kota kecil.

Kebutaan Kultural yang Mengikat Bacaan Kita

Pierre Bourdieu memberi kita alat tambahan untuk memahami mengapa sekadar membaca huruf bukan jaminan pemahaman sosial. Dalam kajian sosiologinya, Bourdieu mengenalkan konsep habitus: pola-pola disposisi sosial yang membentuk praktik, cara berpikir, dan preferensi individu serta bukan sesuatu yang dipilih secara sadar, tetapi terbentuk dari kondisi sosial tertentu. 

Habitus ini berperan besar dalam membentuk bagaimana seseorang membaca dunia. Kita mungkin bisa membaca huruf, tetapi kebiasaan berpikir, nilai-nilai yang tertanam melalui pengalaman hidup, pendidikan, lingkungan sosial, dan posisi kelas kita, juga akan memengaruhi apa yang kita lihat dan apa yang kita lewatkan. Bourdieu menunjukkan bahwa membaca bukanlah aktivitas netral itu adalah praktik sosial terstruktur.

Masih banyak orang yang memiliki kecakapan teknis membaca tetapi tetap gagal memahami tekstur sosial di balik bacaan mereka. Mereka membaca headline berita, tetapi tidak membaca struktur kekuasaan yang memproduksi headline itu; membaca data statistik, tetapi tidak membaca relasi kepentingan yang menghasilkan data tersebut; membaca teori sosial, tetapi tanpa menghubungkannya dengan praktek konkret kehidupan sosial.

Inilah kebutaan sosial: bukan karena kita tidak bisa membaca, melainkan karena kita belum dilatih untuk melihat konteks sosial dalam teks kita.

Seremonial Literasi: Ibadah tanpa Tafsir

Sering terdengar slogan “Ayo gemar membaca buku.” Ironisnya, banyak program literasi seperti itu lebih mengukur kuantitas daripada kualitas pemahaman. Statistik jumlah buku yang terjual, jumlah perpustakaan dibangun, jam membaca yang dikampanyekan di sekolah semua tampak mengesankan secara angka, tetapi lupa menanyakan apa dampak sosial yang dihasilkan? Apa yang diubah oleh bacaan itu terhadap cara seseorang melihat dirinya, orang lain, dan struktur sosial di sekitarnya?

Kegiatan semacam ini bukan berarti tidak penting tapi ketika “literasi” ditempatkan sebagai kegiatan ritual kuantitatif tanpa makna kontekstual, maka kita hanya menghasilkan crowd yang mampu membaca kata tanpa membaca dunia.

Seremonial tanpa tafsir Cuma memperkuat ilusi: bahwa cukup membaca buku baku untuk menjadi manusia berpengetahuan. Padahal pengetahuan sosial bukan dibentuk dari membaca buku saja; melainkan dari kemampuan untuk menghubungkan bacaan dengan struktur sosial nyata, konflik, ketimpangan, dan hubungan kekuasaan yang melekat di dalamnya. Tanpa itu, kita menghasilkan generasi yang dibekali teknik membaca, tetapi tetap tidak bisa membaca situasi sosial yang menentukan hidup mereka.

Menuju Paradigma Kritis

Maka apa yang kita butuhkan bukan sekadar seremonial literasi, tetapi sebuah paradigma kritis, soal cara membaca yang menempatkan teks sebagai pintu masuk menuju pemahaman terhadap struktur sosial yang memproduksi teks itu sendiri. Paradigma ini tidak lahir dari sekadar latihan membaca buku, tetapi dari praktik sosial yang memaksa pembaca untuk berpikir, mempertanyakan, dan bertindak.

Paradigma kritis berarti:

Menghubungkan bacaan dengan realitas sosial dari isu kemiskinan, politik identitas, sampai kekuasaan media.

Mengajarkan bahwa setiap teks, termasuk berita dan buku, terikat pada relasi sosial yang kompleks.

Menjadikan pembelajaran sebagai dialog bukan ceramah top-down.

Menanamkan kemampuan reflektif untuk berpikir tentang mengapa sesuatu disebut fakta dan siapa yang memutuskan itu.

Model pendidikan semacam ini bukan sekadar mengajarkan orang bagaimana membaca huruf, tetapi mengajarkan mereka bagaimana membaca dunia.

Membaca Dunia, Bukan Sekadar Paragraf

Merendah bukan berarti mengabaikan kemampuan teknis membaca huruf; namun, lebih dari itu, kita harus menyadari bahwa literasi yang sejati adalah kemampuan membaca realitas sosial secara kritis. Kita tidak buta huruf sebagian besar masyarakat bisa membaca dan menulis tetapi kita buta terhadap cara membaca struktur sosial yang menciptakan narasi, relasi kekuasaan, dan bentuk-bentuk ketidakadilan yang tersembunyi di balik banyak teks yang kita konsumsi.

Saat kita berhenti memperlakukan literasi sebagai ritual kuantitatif, dan mulai melihatnya sebagai alat kritis yang membebaskan, kita membuka kemungkinan bagi transformasi sosial yang lebih dalam. Literasi bukan sekadar masalah buku, tetapi masalah cara kita diberi makna dalam suatu dunia sosial. Dan hanya ketika kita belajar membaca dunia itu dengan kritis, kita akan berhenti menjadi pembaca pasif, menjadi agen yang mampu membaca teks sosial sekaligus mengubahnya.

Referensi

Freire, P. (2008). Pedagogi orang tertindas (Terj.). Yogyakarta: Kanisius.

Bourdieu, P. (1984). Distinction: A social critique of the judgement of taste. Cambridge, MA: Harvard University Press.

McLuhan, M. (1964). Understanding media: The extensions of man. New York, NY: McGraw-Hill.

Mannheim, K. (1936). Ideology and utopia: An introduction to the sociology of knowledge. London: Routledge.

Posting Komentar