Ilustrasi - detik.com
Dalam setiap bencana, selalu ada dua cerita yang berjalan bersamaan. Cerita versi negara, dan cerita versi warga. Di Jembatan Sungai Tamiang, Aceh Tamiang, dua cerita itu kini bertemu, tidak selalu sejalan, tapi sama-sama penting untuk didengar.
Di atas jembatan itu, tenda-tenda bertuliskan BNPB berdiri rapi. Putih, bersih, teratur. Sebuah pemandangan yang memberi kesan negara hadir dan bekerja. Namun bagi warga yang sudah lebih dari seminggu mengungsi, kehadiran itu terasa datang belakangan.
Amri, salah satu pengungsi, mengingat betul hari-hari awalnya. Ia menumpang di tenda warga lain. Satu tenda diisi empat kepala keluarga. Tidur berhimpitan, nyaris tanpa ruang. “Macam ikan dalam fiber,” katanya, sederhana tapi jujur. Bagi Amri, itulah kenyataan sebelum tenda BNPB berdiri di tempat ia mengungsi.
Ketika tenda BNPB akhirnya terpasang, Amri menyebut itu baru terjadi beberapa jam sebelum kabar kedatangan Presiden Prabowo Subianto beredar. Narasi inilah yang kemudian menyebar luas: bahwa tenda datang menjelang agenda Presiden.
BNPB Membantah Narasi Tersebut
Dalam klarifikasinya, BNPB menegaskan bahwa distribusi tenda telah dilakukan sejak akses jalur darat Medan–Aceh Tamiang terbuka pada 6 Desember 2025. Dalam sepekan terakhir, BNPB menyebut telah mengirimkan sekitar 30 tenda pleton dan 1.000 tenda keluarga, dengan ratusan di antaranya telah tergelar sejak 9 Desember. Proses pemasangan, kata BNPB, dilakukan bertahap, siang dan malam, dengan mempertimbangkan kesiapan lokasi dan kondisi lapangan.
BNPB juga menegaskan bahwa pendirian tenda tidak berkaitan dengan agenda kunjungan Presiden, dan dilakukan semata-mata untuk menyediakan tempat bernaung yang lebih layak bagi warga terdampak.
Klarifikasi ini penting dicatat. Negara berhak menjelaskan kerjanya. Data logistik, jadwal distribusi, dan upaya petugas di lapangan tidak bisa diabaikan. Banyak petugas bekerja tanpa sorotan, di tengah keterbatasan dan tekanan besar.
Namun di Sisi Lain, Cerita Warga Juga Tidak Bisa Begitu Saja disingkirkan
Apa yang disampaikan Amri dan Suriani bukan laporan administrasi, melainkan pengalaman hidup. Mereka tidak menghitung jumlah tenda yang dikirim, tapi menghitung hari mereka bertahan tanpa ruang yang layak. Mereka tidak membaca jadwal distribusi, tapi merasakan kapan tenda benar-benar bisa ditempati.
Di sinilah jarak itu terasa. Bukan semata soal benar atau salah, tapi soal persepsi waktu dan pengalaman. Negara bekerja berdasarkan tahapan, prosedur, dan angka. Warga mengalami bencana berdasarkan rasa lelah, lapar, dan harapan yang menipis dari hari ke hari. Dan persoalan mendasarnya tetap sama.
Selama hari-hari awal pengungsian, warga masih harus berbagi tenda dalam jumlah besar. Air bersih masih sulit diakses. Mobil air datang dua hari sekali. Bagi warga lanjut usia, mengambil air dari jauh adalah beban berat. Kebutuhan dasar ini sudah ada sejak hari pertama, jauh sebelum polemik soal kunjungan Presiden mencuat.
Di titik inilah kritik tetap relevan: bukan pada niat BNPB, melainkan pada pola penanganan yang sering terasa lambat di level pengalaman warga. Bantuan mungkin bergerak, tapi belum selalu sampai tepat waktu bagi semua orang. Distribusi bisa berjalan, tapi rasa ditinggalkan tetap muncul.
Fenomena ini bukan hal baru dalam penanganan bencana. Negara sering hadir lebih dulu dalam bentuk data dan laporan, sementara warga lebih dulu merasakan dampaknya dalam bentuk kekosongan. Ketika dua hal ini tidak bertemu, yang muncul adalah ketidakpercayaan.
Maka persoalannya bukan sekadar apakah tenda dipasang karena Presiden atau tidak. Persoalannya adalah mengapa warga masih merasa sendirian selama hari-hari krusial bencana. Mengapa bantuan yang secara administratif sudah bergerak, secara sosial baru terasa belakangan.
BNPB menyatakan terbuka terhadap kritik dan masukan. Sikap ini patut diapresiasi. Tapi kritik dari warga bukan sekadar masukan teknis. Ia adalah alarm kemanusiaan. Penanda bahwa ada jarak antara kerja negara dan rasa aman rakyat.
Bencana Tidak dibaca Dalam Tabel, Ia dirasakan Dalam Tubuh
Jika negara ingin kehadirannya benar-benar dirasakan, maka ukuran keberhasilan bukan hanya berapa tenda dikirim, tapi kapan warga bisa tidur dengan layak. Bukan hanya berapa mobil air berjalan, tapi apakah orang tua masih harus menahan haus.
Di Jembatan Sungai Tamiang, negara memang hadir. Tapi cerita warga mengingatkan kita: hadir saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah hadir tepat waktu, dengan empati, dan benar-benar menyentuh kebutuhan paling dasar.
