Ilustrasi - Menlu Sugiono (kiri). Eks Wamenlu Dino Patti Djalal
Kritik keras datang dari Dino Patti Djalal, seorang diplomat senior yang sudah berkecimpung di dunia diplomasi selama lebih dari 40 tahun. Melalui video yang ia unggah di akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, Dino menyampaikan empat kritik besar terhadap kinerja Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono. Kritik ini bukan sekadar untuk mengkritik, tetapi lebih kepada peringatan serius bagi masa depan diplomasi Indonesia.
Dino, yang memiliki banyak pengalaman dalam dunia diplomasi, merasa perlu untuk berbicara terbuka setelah merasa jalur komunikasi langsung dengan Sugiono terputus selama berbulan-bulan. Apa yang sebenarnya Dino soroti dalam kritiknya? Bagaimana dampak dari kritik ini terhadap masa depan diplomasi Indonesia? Mari kita telusuri satu per satu.
Kritik Pertama, Kepemimpinan yang Terlalu Jauh dan Tidak Fokus
Kritik pertama yang disampaikan Dino cukup tajam. Ia menilai bahwa Sugiono gagal memberikan perhatian penuh pada Kementerian Luar Negeri (Kemlu). Dino mengibaratkan Kemlu seperti mobil Ferrari yang berisi diplomat-diplomat hebat, tetapi tanpa pengemudi yang tepat, mobil itu tidak akan bisa berjalan maksimal. Sebuah kementerian luar negeri yang besar seharusnya dipimpin oleh seseorang yang fokus dan siap memimpin sepenuh hati.
Dino menyebutkan bahwa dalam banyak kesempatan, Sugiono tidak hadir secara maksimal dalam memimpin kementerian ini. Koordinasi dengan duta besar yang seharusnya intens, malah tertunda berbulan-bulan. Bahkan, anggaran yang dipangkas membuat moral diplomat Indonesia menurun. Dalam kondisi seperti ini, kinerja diplomasi Indonesia akan sangat terpengaruh. Diplomasi internasional kita tidak bisa berkembang jika tidak ada arah yang jelas dari pimpinan Kemlu.
Sebagai Menlu, Sugiono seharusnya menjadi penggerak utama untuk menjaga hubungan diplomatik Indonesia di dunia internasional. Jika kepemimpinan Kemlu terabaikan seperti ini, Indonesia bisa kehilangan banyak kesempatan untuk memperkuat posisi diplomatiknya.
Kritik Kedua, Komunikasi Politik Luar Negeri yang Terlalu Minim
Kritik kedua Dino adalah soal komunikasi politik luar negeri Indonesia. Dino mengingatkan bahwa politik luar negeri dimulai dari rumah, artinya, komunikasi yang jelas dengan publik sangat penting untuk memastikan masyarakat paham akan kebijakan luar negeri yang diambil pemerintah. Dino menyebutkan bahwa Menlu Sugiono sudah hampir setahun tidak memberikan pidato kebijakan luar negeri yang substansial, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Ia juga tidak pernah memberikan wawancara khusus kepada media yang membahas isu-isu penting dalam politik luar negeri Indonesia.
Dalam dunia diplomasi modern, komunikasi yang intensif sangat diperlukan untuk membangun kepercayaan publik. Jika dibandingkan dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang aktif membangun kepercayaan publik lewat komunikasi yang terus-menerus dan jelas, Menlu Sugiono justru lebih banyak menggunakan Instagram untuk berbagi foto yang lebih banyak menunjukkan kegiatan sehari-hari daripada penjelasan tentang kebijakan luar negeri.
Minimnya penjelasan substansial ini, menurut Dino, bisa membuat Sugiono dicap sebagai silent minister, seorang Menlu yang lebih banyak diam daripada berbicara kepada publik. Ini tentu saja berisiko bagi transparansi dan kepercayaan publik terhadap kebijakan luar negeri Indonesia.
Kritik Ketiga, Terisolasi dari Pemangku Kepentingan.
Kritik ketiga yang disampaikan Dino berkaitan dengan hubungan Menlu Sugiono dengan pemangku kepentingan dalam diplomasi Indonesia. Menurut Dino, Menlu Sugiono terkesan terisolasi dan sulit diakses oleh mereka yang seharusnya menjadi mitra dalam diplomasi internasional. Padahal, membangun hubungan yang kuat dengan berbagai pihak adalah hal yang sangat penting dalam dunia diplomasi.
Dino mengingatkan tentang prinsip lama yang selalu dipegang oleh para Menlu terdahulu, yaitu ”never burn your bridges”. Artinya, kepercayaan dan dukungan dari para pemangku kepentingan internasional harus dijaga dengan baik. Namun, Sugiono justru dianggap sulit dijangkau oleh para pemangku kepentingan ini. Ini bisa berbahaya bagi hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara sahabat.
Dalam diplomasi, kita tidak bisa hanya mengandalkan hubungan antar negara tanpa melibatkan organisasi-organisasi penting, akademisi, dan kelompok masyarakat sipil yang berperan dalam membangun citra negara. Tanpa membina hubungan yang baik dengan para pemangku kepentingan ini, diplomasi Indonesia bisa menjadi terabaikan dan kehilangan momentum di kancah internasional.
Kritik Keempat, Tidak Cukup Mengakomodasi Akar Rumput dalam Diplomasi.
Kritik terakhir Dino adalah soal kurangnya keterbukaan Menlu Sugiono terhadap kerja sama dengan akar rumput dalam dunia diplomasi. Dunia diplomasi tidak hanya soal hubungan antar negara besar, tetapi juga tentang bagaimana pemerintah bekerja sama dengan masyarakat sipil dan organisasi non-pemerintah untuk memperkuat pengaruh Indonesia di dunia internasional.
Namun, Sugiono tampaknya kurang mendengarkan suara-suara di luar pemerintahan, dan lebih cenderung berjalan sendiri. Diplomasi Indonesia haruslah gotong-royong, di mana pemerintah, masyarakat, dan berbagai organisasi bekerja bersama untuk mencapainya. Tanpa kolaborasi ini, Indonesia akan kehilangan banyak kesempatan untuk memperkuat peranannya di dunia internasional.
Dino menilai bahwa Indonesia membutuhkan keterlibatan lebih banyak pihak dalam merumuskan kebijakan luar negeri. Hanya dengan cara ini, diplomasi Indonesia akan semakin solid dan mampu mengatasi tantangan global yang terus berkembang.
Sikap Menlu Tantangan Bagi Kemajuan Diplomasi Indonesia?
Dino Patti Djalal mengingatkan dengan kritik tajam ini bahwa diplomasi Indonesia saat ini berada di titik kritis. Kepemimpinan Menlu Sugiono yang kurang fokus, komunikasi yang minim, hubungan yang terisolasi, dan kurangnya keterbukaan terhadap akar rumput bisa mengancam posisi Indonesia di panggung dunia. Jika hal-hal ini terus dibiarkan, Indonesia bisa kehilangan momentum dan semakin terpinggirkan dalam persaingan diplomasi global.
Namun, Dino tidak hanya memberikan kritik. Ia juga memberikan harapan bahwa jika perubahan dilakukan dengan serius, Menlu Sugiono masih punya peluang untuk mencatatkan dirinya sebagai Menlu yang cemerlang. Diplomasi Indonesia bisa lebih kuat jika dipimpin dengan kepemimpinan yang jelas, komunikasi yang terbuka, dan kolaborasi yang melibatkan banyak pihak. Kritik ini bukanlah untuk meruntuhkan, tetapi untuk membangun kembali fondasi diplomasi Indonesia yang kuat dan adaptif terhadap perkembangan dunia yang cepat.
Referensi
Djalal, Dino Patti. (2021). ”Diplomasi Indonesia: Antara Harapan dan Kenyataan.” Video Statement, Instagram.
Yuwono, F. (2020). ”Politik Luar Negeri Indonesia: Menghadapi Tantangan Global.” Jakarta: Penerbit Gramedia.
Siahaan, E. (2019). ”Indonesia di Panggung Diplomasi Dunia.” Yogyakarta: Penerbit Buku Kompas.
