![]() |
| Ilustrasi Triple Bottom Line (Dok. Sweep) |
Beberapa tahun terakhir, kita hidup di tengah orasi pejabat
negara yang sangat suka memakai kata “kemajuan” demi mendukung ambisi proyek
pembangunan. Semua hal dibicarakan dengan bahasa pertumbuhan kapitalistik.
Dalam berbagai pidato kenegaraan, data yang disebutkan selalu saja perihal
pertumbuhan ekonomi yang katanya naik. Laporan soal kenaikan perolehan dana
Investasi.
Penjabaran dokumentasi soal tuntasnya proyek Infrastruktur
diklaim bertambah. Dalam kunjungan dinas, pejabat gemar menampilkan Proyek
strategis nasional diresmikan satu per satu. Bukti yang ditayangkan Di televisi
semuanya terlihat bergerak maju.
Tetapi, meski semakin sering negara bicara soal pertumbuhan
dan kemajuan, semakin banyak orang merasa hidupnya bergerak dalam pola
lingkaran yang sama. Upaya mereka mengumpulkan harta justru makin jadi upaya
melelahkan yang tidak ada habisnya.
Orang tua mulai takut pada sekolah dan pendidikan akibat
biaya sekolah anak. Anak muda kerja terus menerus diceritakan soal “Indonesia
emas”, tapi tetap merasa masa depannya dibiarkan terasa kabur. Harga kebutuhan
pokok membuat makan siang tanpa sadar naik pelan-pelan.
Di tengah masifnya pembangunan, Kota makin
panas. Udara akibat polusi industri membuat masyarakat makin sesak bernafas.
Lonjakan harga dan kebutuhan pangan membuat orang makin
gampang marah di jalan.
Setelah masyarakat melaksanakan semua, kelelahan membuat
kombinasi perasan yang tidak sinkron antara optimisme negara dan kerja keras
masyarakatnya. Dan mungkin masalahnya memang berdasarkan titik masalah paling
dasar, bahwa negara terlalu sibuk mengejar pertumbuhan, sampai lupa memastikan
apakah manusianya masih bisa hidup dengan rasa aman ekonomi dan kestabilan
harga untuk menjamin roda produksi masyarakat.
Di kampung-kampung, petani masih bingung mencari harga pupuk
yang stabil. Di kota, orang pulang ke rumah dari hari-hari setelah bergulat
dengan kerja sambil menghitung apakah gajinya masih bisa cukup untuk membiayai
kebutuhan sampai akhir bulan.
Banyak anak muda sekarang bahkan tidak lagi bermimpi punya
rumah. Mereka cuma berharap jangan sampai sakit, karena sekali masuk rumah
sakit, tabungan bisa terkuras habis. Tetapi pemerintah dan para pejabat
senantiasa bertutur bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kita hidup di zaman ketika pembangunan sering terasa seperti
pertunjukan hiburan. Yang penting upaya pembangunan bisa menunjukkan bangunan
megah yang besar. Setiap pembangunan punya gaya modern. Setiap kepemimpinan
pejabat daerah terlihat ambisius. Ragam foto proyek bagus ditampilkan di media
sosial untuk menampilkan bukti pencapaian. Angka dalam laporan investasi
menjadi data paling enak untuk melengkapi isi naskah pidato. Sementara urusan
apakah rakyat benar-benar hidup lebih baik sering terdorong ke belakang.
Seorang pengusaha asal Inggris, bernama John
Elkington memiliki usulan yang menarik untuk dunia yang saat ini. Dalam
upayanya menjaga keselarasan manusia, ekonomi dan planet ia menjabarkan
konsep Triple Bottom Line. Gagasan ini muncul karena ia mengerti bahwa
dunia mulai sadar bahwa keuntungan tidak cukup dijadikan ukuran keberhasilan.
Bisnis atau negara tidak hanya bisa bertanya: “berapa
untungnya?” Tetapi juga “siapa yang dikorbankan?”, dan “apa yang rusak setelah
semua keuntungan itu didapat?”
Karena pembangunan yang sehat seharusnya menjaga tiga hal
sekaligus, bisa disingkat 3P: people (manusia), profit (keuntungan), dan planet
(bumi). Masalahnya, penerapan ekonomi di Indonesia hari ini terasa terlalu
berat di satu sisi, yakni profit.
Bicara profit di politik cuma perihal uang. Kadang profit
berarti kesuksesan angka elektabilitas. Keberhasilan membangun citra pejabat
yang berpihak pada rakyat. Deretan jumlah Proyek yang bisa dipamerkan sebagai
portofolio. Laporan angka satistik yang terlihat menarik untuk dijual pada
pihak pendonor saat pidato kenegaraan dilangsungkan. Makanya kita sering
melihat negara lebih cepat membangun hal-hal besar dibanding memperbaiki
hal-hal yang mendasar.
Jika Sekolah rusak bisa menunggu anggaran yang menganggur.
Tetapi Proyek Strategis Nasional (PSN) harus dilaksanakan dan diselesaikan
dengan cepat. Transportasi publik masih di pusat kota masih semrawut. Tetapi
kawasan bisnis baru terus dibuka dengan dalih yang sama, pembangunan ekonomi.
Janji 19 juta lapangan kerja membuat Anak muda makin stres
mencari kerja. Tetapi negara sibuk bicara bonus demografi seperti mantra
optimisme agar masyarakat terlelap dan berhenti mengkritik negara. Semua jargon
ekonomi ini rasanya seperti negara lebih mencintai konsep pertumbuhan daripada
manusia yang hidup di dalamnya. Dan rasa ketersesatan itu mulai terasa dalam
kehidupan sehari-hari.
Melihat bagaimana pola hidup dari masyarakat di kota-kota
besar saat ini. Orang-orang berangkat kerja sepagi mungkin, pulang se-larut
mungkin, lalu besok mengulang kegiatan yang sama seperti pola. Banyak orang di
pusat kota yang hidup cuma untuk bertahan hidup. Nongkrong jadi pelarian murah
karena liburan terlalu mahal dan tak lagi terjangkau. Media sosial dipenuhi
orang-orang yang bercanda soal burnout, padahal sebenarnya mereka benar-benar
kelelahan fisik dan mental. Tetapi karena semua orang sama-sama lelah, akhirnya
kelelahan itu dianggap normal.
Mungkin itu tanda paling jelas bahwa pembangunan kita mulai
kehilangan sisi “people”. Karena manusia bukanlah mesin ekonomi. Orang tidak
bisa terus disuruh produktif tanpa diberi rasa aman dalam hidup. Dan masalahnya
tidak berhenti di situ. Saat negara terlalu fokus mengejar pertumbuhan,
lingkungan biasanya jadi korban pertama.
Hutan-hutan tempat resapan air dan polusi udara dibuka untuk
dijadikan lahan baru ekspansi bisnis negara. Kerusakan wilayah, udara, air dan
tanah meluas akibat Tambang diperluas. Sungai rusak. Atmosfer dirusak dan
membuat udara makin panas. Semua dilakukan atas nama pembangunan. Padahal,
kalau kita mau merenungi hidup secara lebih perlahan. Kita bicara soal masa
depan bangsa sambil perlahan menghancurkan tempat hidup bangsa itu sendiri.
Di Jakarta orang beli air bersih untuk memenuhi kebutuhan
mereka pokok rumah tangga. Di beberapa kota lain, panas di terik siang sudah
terasa seperti masuk ke dalam penghangat oven. Banjir datang makin sering
akibat kerusakan alam, tetapi selalu dianggap musibah musiman dan ujian
kehidupan dari Tuhan. Keterbatasan pilihan kita membuat Kita mulai terbiasa
hidup di tengah kerusakan.
Dan yang paling cepat menyesuaikan diri terhadap kerusakan
biasanya justru semua perangkat birokrasi dalam negara. Karena negara punya
kemampuan aneh untuk menganggap sesuatu tetap normal selama grafik ekonomi
masih tumbuh subur. Sementara rakyat kecil harus menghadapi dampaknya langsung
dalam kehidupan mereka.
Petani gagal panen tidak bisa menunggu jargon transisi hijau
dari menteri pertanian. Nelayan yang lautnya rusak tidak hidup dari pidato
menteri kelautan soal sustainability.
Warga yang rumahnya kebanjiran tiap tahun tidak peduli
istilah pembangunan berkelanjutan kalau akhirnya tetap tidur di tenda
pengungsian.
Makanya konsep Triple Bottom Line sebenarnya bukan teori
bisnis yang semata-mata terlihat apik dan keren. Ia seperti koreksi nyata untuk
mengingatkan manusia dan pemerintahannya, bahwa pembangunan seharusnya tidak
membuat manusia dan lingkungannya hancur demi keuntungan jangka pendek.
Karena negara modern sering punya penyakit yang sama, bahwa
terlalu percaya bahwa semua hal bisa dibenarkan selama menghasilkan
pertumbuhan. Padahal sejarah menunjukkan banyak negara runtuh bukan karena
miskin, tetapi karena terlalu lama membiarkan rakyatnya hidup dalam kelelahan
kolektif.
Orang mulai kehilangan rasa percaya satu sama lain. Pada
sesama, pada pemerintah, pada objek pembangunan ekonomi. Masyarakat mulai sinis
pada pembangunan-pembangunan yang katanya diperuntukkan bagi mereka.
Orang-orang mulai merasa negara cuma hadir untuk proyek besar dan elite
politik. Dan gejala itu mulai terasa di Indonesia.
Anak muda makin sulit percaya jika kerja keras otomatis
membuat hidup lebih baik. Kelas menengah mulai takut turun kelas. Orang miskin
makin sulit keluar dari lingkaran hidup yang sempit. Tetapi negara tetap bicara
tentang optimisme nasional dengan nada yang sangat percaya diri.
Kadang yang membuat rakyat marah bukan cuma kebijakan buruk.
Tetapi perasaan bahwa penguasa tidak benar-benar memahami bagaimana hidup
dijalani oleh masyarakat kelas bawah. Bahwa ada jarak besar antara ruang rapat
kekuasaan dan kehidupan sehari-hari masyarakat biasa.
Triple Bottom Line pada akhirnya cuma ingin mengingatkan
kita para manusia, bahwa keuntungan itu penting, tetapi manusia lebih penting.
Pertumbuhan itu juga perlu, tetapi bumi tempat kita hidup juga perlu dirawat
dan dijaga. Karena apa gunanya negara terlihat maju kalau rakyatnya terus hidup
penuh cemas? Apa gunanya proyek besar kalau udara makin buruk dan hidup makin
terasa mahal? Apa gunanya bicara masa depan kalau generasi mudanya bahkan takut
membayangkan umur 40 nanti akan hidup seperti apa?
Mungkin kita memang perlu berhenti sebentar dan bertanya ulang, bahwa pembangunan ini sebenarnya sedang membawa siapa menuju masa depan?. Karena kalau negara hanya tumbuh secara angka, tetapi manusianya perlahan kehilangan harapan, mungkin yang sedang dibangun bukan kemajuan. Melainkan kelelahan yang dibuat terlihat sebagai dampak dari pembangunan megah.
