Pesta Babi: Ketika Tanah Menyimpan Luka Sunyi Masyarakat Papua

Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono bukan sekadar film dokumenter kegiatan yang bercerita tentang warga Papua. Ia adalah usaha untuk ...

Di banyak tempat di Indonesia, Papua sering hadir hanya sebagai gema dari suara warga yang terletak nun jauh. Ia muncul sebentar di televisi ketika ada kerusuhan, penembakan, konflik politik, atau pertandingan sepak bola. Setelah itu hilang lagi. Seolah-olah Papua hanyalah halaman belakang republik yang hanya dikunjungi ketika negara membutuhkan semas, kayu, tambang, angka pertumbuhan, atau slogan persatuan.

Padahal di sana ada ratusan ribu manusia yang hidup, kehilangan, marah, mencintai tanahnya, dan perlahan menyaksikan dunianya berubah terlalu cepat.

Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono bukan sekadar film dokumenter kegiatan yang bercerita tentang warga Papua. Ia adalah usaha untuk mendengar suara yang selama ini terlalu sering dipotong sebelum selesai berbicara. Sebuah dokumenter yang tidak datang dengan tonasi dramatis khas berita di televisi, tetapi justru film yang bergerak secara perlahan, sunyi, dan karena itu terasa jauh lebih menghantam ke sanubari.

Kita hidup di zaman ketika pembangunan hampir selalu dianggap misi suci penguasa. Pembangunan jalan-jalan baru dianggap kemajuan. Tambang dianggap sumber aliran dana investasi. Pembangunan gedung tinggi dianggap kemajuan peradaban. Negara modern bergerak dengan keyakinan bahwa segala sesuatu harus tumbuh, dipercepat, dan diproduksi. Tetapi sangat jarang kita berhenti untuk bertanya: siapa yang membayar harga dari semua pertumbuhan itu?

Pertanyaan itulah yang perlahan muncul dalam alur cerita Pesta Babi.

Sutradara Film Dokumenter Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono (Image: Tempo)

Film ini membawa penonton masuk ke area yang jarang terlihat dalam tayangan media dan berita yang kita saksikan di televisi, perihal relasi antara masyarakat adat, tanah, eksploitasi sumber daya alam, dan kekuasaan yang bekerja secara ekstraktif diam-diam namun bergerak secara masif. Papua dalam dokumenter ini bukan menyajikan promosi eksotisme wisata alam dan tempat liburan indah. Bukan juga menyajikan manusia sebagai objek belas kasihan. Ia tampil sebagai ruang hidup yang sedang dipertaruhkan, dipertahankan, dan diperjuangkan.

Dan yang membuat film ini terasa kuat adalah karena ia tidak terasa seperti ceramah politik yang provokatif, Film ini lebih mirip percakapan panjang tentang kehilangan yang warganya alami.

Kita melihat bagaimana tanah bagi masyarakat adat bukan sekadar properti ekonomi. Tanah adalah ingatan kolektif masyarakatnya. Tanah adalah identitas kelompok yang berdiri diatasnya. Tanah adalah leluhur dari para penduduknya. Ketika hutan ditebang atau gunung dibongkar, yang hilang bukan cuma pohon atau batu. Ada kehilangan batin yang ikut runtuh bersamanya.

Di kota-kota besar, kita sering begitu jauh dari cara pandang seperti itu. Kita hidup di apartemen, pusat perbelanjaan, jalan beton, dan ritme digital yang membuat segala sesuatu terasa transaksional. Alam dianggap hanya penghasil sumber daya ekstraktif. Sungai hanya dianggap saluran pembuangan limbah. Hutan hanya dianggap lahan eksploitasi yang potensial. Semua diukur berdasarkan seberapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan.

Karena itu, Pesta Babi terasa penting. Ia memaksa kita keluar sebentar dari cara pandang masyarakat modern yang terlalu sibuk menghitung untung-rugi ekonomi, lalu mengingatkan bahwa ada manusia yang hidupnya tidak bisa diterjemahkan hanya lewat akumulasi dan nilai di angka pertumbuhan.

Film ini juga memperlihatkan sesuatu yang sering terjadi dalam banyak wilayah eksploitasi, yakni jarak antara mereka yang mengambil keputusan dan mereka yang menanggung akibatnya. Kebijakan lahir di ruang rapat yang dingin dan jauh. Tetapi dampaknya jatuh kepada masyarakat yang bahkan sering tidak diberi kesempatan bicara.

Ironinya, pembangunan hampir selalu datang dengan bahasa yang terdengar indah. Kemajuan. Investasi. Lapangan kerja. Masa depan. Namun kata-kata besar itu terkadang menutupi kenyataan yang lebih sulit diterima. Penggusuran identitas, hilangnya ruang hidup, dan perasaan tercerabut dari tanah sendiri.

Yang paling mengganggu dari dokumenter ini bukan hanya apa yang diperlihatkan, tetapi juga kesadaran bahwa banyak dari kita sebenarnya sudah terlalu terbiasa mendengar cerita semacam ini. Kita hidup di negara yang sering kali mengorbankan daerah pinggiran demi kenyamanan pusat. Dari Papua sampai Kalimantan, dari pesisir sampai pedalaman, eksploitasi sering dibungkus sebagai pembangunan nasional.

Dan masyarakat perlahan diajarkan untuk menerima itu sebagai sesuatu yang normal.

Di titik ini, Pesta Babi menjadi lebih dari sekadar dokumenter tentang kerusakan alam yang terjadi di Papua. Ia berubah menjadi cermin tentang bagaimana mekanisme negara modern bekerja. Tentang bagaimana kekuasaan bisa hadir lewat perizinan tambang, proyek infrastruktur, aparat keamanan, hingga narasi media. Semuanya bergerak bersama membentuk satu keyakinan besar, bahwa kemajuan harus terus berjalan, apa pun yang dikorbankan.

Poster Film "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita"

Tetapi film ini juga menyisakan pertanyaan moral yang tidak nyaman bagi kita, tentang apakah kita, yang tinggal jauh dari Papua, benar-benar tidak terlibat?

Sebab pada akhirnya, eksploitasi alam tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan gaya hidup kita sehari-hari. Dengan listrik yang kita gunakan. Dengan barang yang kita beli. Dengan ekonomi yang kita nikmati. Ada rantai panjang yang menghubungkan pusat kota dengan wilayah-wilayah terpelosok yang diam-diam dikorbankan.

Dan mungkin itulah mengapa banyak orang merasa tidak nyaman dengan penayangan film dokumenter seperti ini. Karena ia membuat kita sadar bahwa tragedi sering kali terasa jauh hanya sampai kita memahami bahwa hidup nyaman kita mungkin ikut dibangun di atas penderitaan orang lain.

Namun Pesta Babi tidak hanya berbicara tentang kemarahan. Di balik seluruh kritiknya, ada kesedihan yang sangat manusiawi. Kesedihan karena manusia modern semakin kehilangan hubungan dengan tanah, alam, dan sesama. Kita hidup di era di mana akses menuju informasi yang begitu cepat kita dapat, tetapi sering lupa bertanya ke mana sebenarnya kita sedang menuju.

Papua dalam film ini terasa seperti simbol dari sesuatu yang lebih besar, perihal dunia yang perlahan habis demi memenuhi hasrat pertumbuhan tanpa akhir.

Dan mungkin karena itu film seperti ini penting diputar di ruang-ruang kecil komunitas, bukan hanya festival besar. Sebab dokumenter bukan cuma soal sajian informasi. Ia bisa menjadi ruang untuk belajar merasakan kembali perihal apa yang terjadi. Untuk melatih empati di tengah zaman yang terlalu bising dan terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.

Menonton Pesta Babi seharusnya tidak berhenti pada rasa kasihan terhadap Papua. Itu terlalu dangkal. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mempertanyakan cara kita memandang pembangunan, kemajuan, dan relasi manusia dengan alam.

Sebab tanpa kesadaran itu, kita hanya akan terus mengulang pola yang sama, dengan mengambil terlalu banyak, mendengar terlalu sedikit.

Sebagai akhir, film ini meninggalkan satu kesan yang sulit hilang di benak penonton. Bahwa kadang-kadang, kekerasan terbesar bukanlah hasil dari suara ledakan atau konflik berdarah yang terbuka. Tetapi proses panjang ketika sebuah masyarakat perlahan dipaksa kehilangan dunianya, sementara orang-orang di tempat lain tetap hidup seperti biasa.

Dan mungkin pertanyaan paling penting setelah film selesai bukanlah perihal “Apa yang terjadi di Papua?”. Melainkan, “Mengapa kita baru mau mendengar setelah semuanya terlambat?”

Posting Komentar