
Presiden Prabowo Subianto berjalan dalam perkumpulan Board of Peace (Dok. Press and Media Bureau of the President of the Republic of Indonesia)
Ada istilah
"bahasa diplomasi tidak untuk semua orang", dan mungkin ini juga yang
saat ini terjadi di negeri kita. Saat ini, kita dihadapkan pada momen ketika
rakyat mulai lelah mendengar kata-kata "diplomasi".
Kalimat-kalimat
seperti “mendorong penyelesaian damai”, “mengupayakan komunikasi”, atau
“mencermati situasi” mungkin terdengar elegan saat disuarakan di ruang
konferensi internasional. Tapi di luar sana, bagi masyarakat biasa, bahasa
seperti itu sering terasa kaku dan tidak mewakili realitas masyarakat.
Kata-kata diplomasi
terasa terlalu jauh dari emosi manusia biasa. Terlalu steril untuk menjawab
kenyataan bahwa sembilan warga negara Indonesia diculik tentara Israel di
perairan internasional.
Dan yang membuat
publik semakin marah adalah kenyataan bahwa Indonesia saat ini justru berada di
dalam Board of Peace (BoP), forum internasional yang katanya dibentuk untuk
mengurusi perdamaian Gaza. Jadi wajar kalau orang-orang bersikap ragu dan mulai
bertanya, "setelah Indonesia sudah duduk di meja bersama mereka, lalu
kenapa ketika warga negara Indonesia masih saja disentuh?". Apa Indonesia
tetap terlihat tidak punya daya tawar?
Itulah inti
persoalannya. Warga Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Gaza lah
yang diculik, mereka bukan tawanan perang yang seharusnya, karena mereka bukan
berasal dari pasukan bersenjata. Keberadaan merekapun bukan hadir sebagai
milisi perang Hamas. Bukan juga agen intelijen pihak asing.
Mereka hanyalah dua
orang jurnalis dan tujuh relawan kemanusiaan yang membawa bantuan obat-obatan
untuk warga di Gaza. Mereka dicegat di perairan internasional, tentu bukan di
wilayah domestik Israel. Dalam hukum laut internasional, tindakan seperti itu bisa
dikategorikan sebagai pelanggaran serius, bahkan disebut sebagai bentuk piracy
(pembajakan).
Artinya, apa yang saat
ini terjadi bukanlah sekadar “insiden biasa” di tengah konflik Timur Tengah.
Ini menyangkut martabat negara dan harga diri bangsa. Tapi, lihatlah respons
pemerintah kita.
Tidak ada tekanan
keras dan desakan pada pemerintahan Israel. Tidak ada ancaman evaluasi
keanggotaan Indonesia dalam jajaran BoP. Tidak ada sikap politik yang
benar-benar menunjukkan bukti wibawa dan kemarahan negara.
Yang muncul justru
bahasa diplomatik yang dibahasakan dengan terlalu hati-hati, seolah pemerintah
takut merusak hubungan dengan forum internasional tersebut dan Israel sebagai tuan rumahnya. Padahal Indonesia
bukan negara yang berdiri di luar BoP. Kita bagian dari itu. Dan BoP sendiri
bukanlah forum Internasional yang kecil.
Dewan ini dipimpin
langsung Donald Trump dengan hak veto mutlak. Di dalam struktur eksekutifnya
ada Jared Kushner dan Tony Blair. Mereka membahas masa depan Gaza, proyek
rekonstruksi, distribusi bantuan, sampai tata kelola wilayah pascaperang lewat
konsep bernama “New Gaza”.
Biaya rekonstruksi
Gaza diperkirakan mencapai lebih dari US$30 miliar. Sementara dana
internasional yang baru terkumpul sekitar US$17 miliar. Bahkan anggota tetap
BoP disebut harus membayar iuran tahunan sampai US$1 miliar. Jadi Board of
Peace bukanlah forum simbolik. Ini adalah pusat kekuasaan baru dalam
pengelolaan Gaza.
Masalahnya, sejak awal
banyak pihak di negara ini sudah mulai curiga terhadap arah BoP. Karena konsep
“New Gaza” terasa lebih mirip proyek tata kelola geopolitik dan investasi
global dibanding perjuangan pembebasan Palestina.
Palestina hari ini
seperti sedang diposisikan bukan sebagai bangsa yang dijajah, tetapi sebagai
wilayah krisis yang perlu “diatur ulang.” Dan ironisnya, di dalam struktur BoP
tidak ada representasi kuat Palestina sebagai pengambil keputusan dalam urusan mereka
sendiri. Israel justru menjadi anggota dominan yang memiliki peran penting
dalam keanggotaan forum tersebut.
Di titik inilah
masyarakat Indonesia beserta banyak tokoh publik mulai merasa ada yang janggal
dan salah. Karena selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai negara yang
konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Dukungan itu bukan cuma kebijakan
luar negeri, tetapi bagian dari identitas moral bangsa.
Makanya ketika
Indonesia sekarang duduk satu forum dengan Israel sambil tetap terlihat lemah
saat WNI diculik, publik merasa ada kontradiksi besar. Indonesia hari ini
kehilangan ketegasan moralnya. Apalagi fakta di lapangan Gaza sendiri masih
jauh dari kata damai.
Laporan Al Jazeera
menunjukkan bahwa klaim BoP tentang kenaikan bantuan kemanusiaan 70% tidak
benar-benar terasa bagi warga sipil. Orang-orang Gaza masih antre makanan
berjam-jam di dapur umum komunitas. Rumah sakit kekurangan alat tes darah
karena perlengkapan medis tertentu tidak diizinkan masuk selama dua tahun
terakhir. Air bersih masih langka.
Kenapa Bantuan Tidak Sampai?
Karena hampir 64%
wilayah Gaza masih berada dalam kontrol militer Israel. Gudang logistik, akses
jalan, sampai distribusi bantuan berada di bawah pengawasan militer. Jadi
bantuan memang “masuk” secara angka, tetapi tidak memiliki akses untuk
menjangkau rakyat Gaza. Dan ini yang membuat banyak orang mulai melihat BoP
bukan sebagai jalan keluar, melainkan mesin pencipta ilusi stabilitas.
Dunia internasional
sibuk membicarakan rekonstruksi, sementara rakyat Gaza masih kesulitan makan.
Lalu Indonesia masuk ke dalam struktur itu dengan harapan punya posisi tawar.
Tetapi posisi tawar macam apa kalau warga negara sendiri saja tidak bisa segera
dipulangkan dengan tegas?
Dalam menyikapi
permasalahan ini, masyarakat Indonesia tidak butuh teori geopolitik yang rumit.
Rakyat hanya ingin melihat satu hal dari pemimpin negeri ini, bahwa negara
berani melindungi rakyatnya sendiri. Iya, Sesederhana itu.
Karena rakyat bisa
memahami bahwa diplomasi itu kompleks. Rakyat tahu Indonesia bukan negara
adidaya. Tapi rakyat juga punya batas kesabaran ketika melihat pemerintah
terlalu plin-plan menghadapi penghinaan terhadap warga negaranya. Dan jujur
saja, dalam kasus ini pemerintah Indonesia terlihat terlalu lunak dan permisif
pada Pemerintah Israel.
Bahkan sebagian
masyarakat mulai bersikap dengan nada sinis, "kalau Indonesia harus bayar
kontribusi, ikut legitimasi politik forum, bahkan rela duduk dengan Israel,
masa kita tidak punya hak untuk menuntut pembebasan WNI dengan tekanan yang
lebih keras?" Lalu, apa gunanya Indonesia terlibat dalam proyek yang tidak
dapat dirasakan oleh Warga negaranya.
Tentu respon ini
adalah luapan emosional. Tapi, ini juga mencerminkan rasa kecewa yang nyata
yang mendalam. Karena yang sedang dipertaruhkan oleh Presiden Prabowo Subianto
bukan cuma urusan diplomatik, melainkan harga diri bangsa.
Negara yang dihormati
bukan negara yang paling banyak durasi pidato moral di forum internasional.
Negara dihormati ketika ia menunjukkan keberanian membela warga negaranya
sendiri. Dan keberanian itu hari ini tidaklah terasa dan juga tidak terlihat.
Mungkin pemerintah
berpikir menjaga hubungan diplomatik lebih penting demi strategi jangka panjang
di BoP. Mungkin pemerintah takut kehilangan akses politik internasional jika
terlalu konfrontatif terhadap Israel. Tapi sikap terlalu hati-hati justru menimbun
resiko yang lebih besar, ketika pemerintah bisa kehilangan kepercayaan dari
rakyatnya sendiri.
Sebab rakyat tidak hidup dari bahasa diplomasi. Rakyat hidup dari rasa aman bahwa negaranya akan berdiri paling depan ketika mereka disakiti. Dan ketika rasa aman itu tidak lagi terjamin dan hilang, yang tersisa hanyalah kebencian, kekecewaan dan kemarahan publik yang terus tumbuh subur di hati dan pikiran seluruh warganya.