![]() |
BJ Habibie mengucapkan sumpah sebagai
Presiden RI yang baru di Jakarta (Dok. Kompas) |
Ekonomi Indonesia pernah berada di titik yang nyaris tidak
masuk akal. Pada tahun 1998, rupiah runtuh seperti bangunan tua yang kehilangan
pondasinya. Dari sekitar Rp2.500 per dolar AS, nilainya ambruk hingga menyentuh
Rp16.800.
Dalam hitungan bulan, tabungan rakyat seperti menguap. Harga
kebutuhan pokok melonjak liar. Orang-orang panik membeli beras dan berbagai
kebutuhan pokok lain. Perusahaan satu per satu kehilangan likuiditas dan
bangkrut. Bank-bank yang melayani nasabah tutup. PHK terjadi di mana-mana.
Kota-kota dipenuhi ketakutan dan kekhawatiran dari masyarakatnya.
Saat krisis ekonomi melanda, negara terasa seperti pesawat
yang kehilangan kendali di darat, laut maupun udara. Dan di tengah kekacauan
sebesar itu, Indonesia justru dipimpin oleh seseorang yang bahkan bukan seorang
ekonom.
Ialah B. J. Habibie. Seorang insinyur pesawat terbang.
Banyak orang waktu itu meragukan kemampuannya memimpin. Bagaimana mungkin
seorang teknokrat aeronautika bisa menyelamatkan ekonomi yang sedang sekarat?
Dunia internasional bahkan menganggap Indonesia nyaris selesai. IMF masuk
dengan penawaran keras yang sulit ditolak oleh negeri yang mengalami krisis
ekonomi. Menggunakan resep yang siap mengontrol arah ekonomi pembangunan
negeri. Investor asing mulai kehilangan rasa kepercayaan.
Situasi politik jadi makin kacau setelah
jatuhnya Soeharto disiarkan di tv nasional. Kerusuhan masih terasa di
mana-mana. Dan keruntuhan negara mungkin saja terjadi dalam durasi yang amat
singkat.
Tetapi mungkin justru karena Habibie bukan ekonom klasik, ia
melihat krisis dengan cara yang berbeda. Ia tidak melihat Indonesia sekadar
sebagai angka-angka atas kumulasi hasil statistik. Ia melihat Indonesia seperti
pesawat raksasa yang sedang mengalami stall, atau kehilangan daya angkat
dan nyaris jatuh.
Dari sudut pandang seorang insinyur, ia memahami satu hal
penting, bahwa pesawat tidak jatuh hanya karena satu baut rusak. Ia jatuh
karena kerusakan kecil yang dibiarkan merambat tanpa dikendalikan. Habibie
menyebut pendekatannya seperti Crack Propagation Theory, teori tentang
bagaimana retakan kecil pada struktur pesawat bisa menyebar dan menghancurkan
seluruh badan pesawat jika tidak segera dihentikan. Mungkin terdengar teknis.
Tetapi sesungguhnya di situlah letak kejeniusannya.
Ia memahami bahwa krisis ekonomi Indonesia bukan cuma soal
rupiah melemah. Krisis itu adalah efek domino. Hasil gumpalan utang dolar
swasta yang gagal dibayarkan oleh pihak dalam negeri.
Bank-bank yang beroperasi mulai kehilangan likuiditas.
Kepercayaan publik kian runtuh. Modal asing dibawa kabur oleh para investor.
Industri dalam negeri lumpuh. Angka pengangguran di kalangan pemuda naik.
Kerusuhan sosial terjadi di mana-mana dan kian meledak. Dan negara hampir
kehilangan legitimasi moralnya di mata masyarakat.
Yang menarik, Habibie tidak sibuk menjual kalimat lewat
naskah pidato populis untuk menenangkan hati dan harapan publik. Ia bekerja
seperti teknisi yang sedang memperbaiki mesin pesawat di tengah kondisi
turbulensi.
Habibie bekerja secara Cepat. Memerintah jajaran kabinet
secara Tegas. Lewat kebijakan-kebijakan yang tidak populer dan tidak
menguntungkan citra nya secara elektoral.
Lewat BPPN, bank-bank bermasalah dilikuidasi. Empat bank
negara yang nyaris mati dilebur menjadi satu, di Bank Mandiri. Negara
menyuntik restrukturisasi ke bank besar seperti Bank Central
Asia demi mencegah kehancuran total sistem perbankan.
Keputusan-keputusan itu tidak didasari pada pertimbangan
romantisme masa lalu. Tidak juga terdengar heroik. Tetapi justru itulah bedanya
pemimpin yang bekerja serius dan pemimpin yang hanya mengandalkan pencitraan.
Pemimpin serius fokus menyelesaikan masalah. Pemimpin
pencitraan fokus menampilkan wibawa dengan tetap bersikap tenang di depan
sorotan kamera. Dan, mungkin inilah kriteria yang terasa hilang dari
kepemimpinan Indonesia hari ini.
Habibie memahami bahwa kepercayaan publik tidak dibangun
lewat jargon, pidato maupun slogan-slogan nasionalistis. Kepercayaan mesti
dibangun lewat kerja-kerja institusi yang sehat secara prosedural. Oleh karena
itu salah satu langkah paling revolusioner yang ia pilih justru urusan yang
jarang dibicarakan sebagai permasalahan sistemik di Indonesia, dengan
membuat Bank Indonesiaindependen melalui UU No. 23 Tahun 1999. Bahkan,
hari ini pun kita sering lupa betapa penting keputusan itu.
Sebelum reformasi BI, bank sentral terlalu mudah dipengaruhi
kepentingan politik penguasa. Akibatnya, kebijakan moneter sering dipakai untuk
menjaga kekuasaan, bukan menjaga stabilitas ekonomi negara. Kebijakan yang
Habibie ambil, memotong rantai intervensi itu.
Ia sadar bahwa negara tidak boleh terus bergantung pada ego
politik kelompok penguasa. Ekonomi membutuhkan institusi yang dipercaya pasar
dan rakyatnya. Bayangkan betapa langka keberanian seperti itu di diambil di
Indonesia. Seorang presiden justru rela mengurangi kendali politiknya sendiri
demi menyelamatkan masa depan ekonomi negaranya.
Bandingkan dengan politik hari ini yang justru sibuk
memperluas pengaruh kekuasaan ke mana-mana. Tetapi mungkin bagian paling
mendasari pola pikir dan pola sikap manusiawi dari Habibie adalah
keputusan-keputusan yang lahir dari empatinya pada rakyat kecil.
Saat IMF mendesak pencabutan subsidi BBM dan listrik,
Habibie menolak tunduk pada perintah itu. Premium tetap dikunci di sekitar
Rp1.000 per liter. Harga listrik tetap dipertahankan. Bukan karena ia anti
pasar bebas, tetapi karena ia tahu rakyat sedang berada di titik paling rapuh
pasca reformasi.
Ia mengerti bahwa teori ekonomi tidak ada gunanya kalau
rakyat keburu lapar. Dan mungkin di situlah perbedaan paling besar antara
teknokrat yang manusiawi dan elite politik yang terlalu jauh dari realitas
sosial.
Habibie bukan pemimpin sempurna. Masa jabatannya singkat.
Banyak kebijakannya juga tetap menuai kritik. Tetapi sejarah sulit menyangkal
satu fakta, bahwa hanya dalam 17 bulan, rupiah berhasil menguat drastis hingga
sekitar Rp6.550 per dolar AS.
Di tengah kekacauan politik terbesar pasca-Orde Baru. Di
tengah pusaran isu negara yang nyaris bangkrut. Di tengah ketidakpercayaan
investor global.
Hari ini, ketika Indonesia kembali menghadapi tekanan
ekonomi global, kisah Habibie terasa relevan bukan sekadar karena
keberhasilannya menyelamatkan rupiah. Tetapi karena ia memperlihatkan sesuatu
yang semakin langka dalam politik modern, bahwa pemimpin yang benar-benar
memahami persoalan sebelum berbicara.
Indonesia hari ini terlalu sering dipenuhi pejabat yang
lebih sibuk mengelola persepsi dibanding menyelesaikan struktur masalah. Krisis
dijawab dengan slogan. Kritik dijawab dengan pencitraan. Dan media sosial
membuat politik makin terasa debat kusir yang dangkal karena semua hal harus
terdengar sederhana dan viral. Padahal menjalankan roda bernegara tidak pernah
sesederhana itu.
Krisis ekonomi tidak selesai hanya dengan optimisme pidato.
Demokrasi tidak sehat hanya karena pemilu rutin digelar. Dan rakyat tidak
otomatis tenang hanya karena pemimpinnya terlihat santai di depan kamera.
Habibie memahami kompleksitas. Ia tidak meremehkan krisis.
Ia tidak menganggap rakyat bodoh. Ia tidak merasa cukup hanya tampil meyakinkan
di depan publik. Ia bekerja. Dan mungkin itulah alasan mengapa hingga hari ini
banyak orang masih merindukan figur seperti dirinya.
Bukan semata karena nostalgia. Tetapi karena masyarakat
diam-diam sadar bahwa kualitas kepemimpinan Indonesia sedang mengalami
penurunan intelektual yang serius.
Kita hidup di era ketika politik lebih menghargai loyalitas
dibanding kompetensi. Ketika pejabat dipilih karena kedekatan, bukan kapasitas.
Ketika orang yang paling banyak bicara sering lebih didengar dibanding orang
yang paling memahami persoalan. Akibatnya, negara perlahan dipenuhi benturan
kepentingan dan kebisingan tanpa arah.
Habibie datang dari generasi yang percaya bahwa pengetahuan
harus dipakai untuk menyelesaikan masalah bangsa. Bahwa teknologi, riset, dan
institusi bukan sekadar alat pencitraan, melainkan fondasi pembentuk dasar masa
depan negara.
Dan hari ini, ketika banyak elit politik lebih sibuk bermain
persepsi politik. Warisan pengorbanan dan pemikiran seperti itu terasa semakin
asing. Ironisnya, bangsa ini sering baru menghargai orang-orang serius setelah
mereka pergi.
Habibie dulu dicemooh oleh banyak orang. Disebut berfikir
terlalu idealis. Dianggap tak mengerti kondisi dan disebut aneh karena bicara
teknologi ketika rakyat sedang miskin. Tetapi waktu membuktikan bahwa negara
justru membutuhkan pemimpin yang berpikir jauh ke depan, bukan sekadar ahli
memenangkan pilihan suara dan popularitas jangka pendek.
Karena pada akhirnya, negara besar tidak diselamatkan oleh orang yang paling pandai membuat rakyat terkesan. Negara diselamatkan oleh orang yang mampu tetap berpikir jernih ketika semua orang panik. Dan Indonesia pernah memiliki itu, meski hanya sebentar.
