Setiap ada sorotan
yang luas dan besar, ataupun ketika Papua mulai berbicara dengan suaranya
sendiri seperti membuat penguasa gelisah. Kegelisahan itu bukan hal baru,
karena sudah sejak lama isu Papua muncul dalam berita-berita televisi dengan
tone yang dipelankan, dalam diskusi yang dibubarkan, dalam stigma yang
ditempelkan terlalu cepat lewat penghakiman, bahkan dalam cara sebagian orang
buru-buru menuduh "tidak nasionalis", "pro-pemberontak"
ataupun “anti-Indonesia” kepada pihak manapun yang mencoba membicarakan Papua
secara jujur dan terbuka.
Dan kegelisahan yang
sama kini muncul lagi lewat film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di
Zaman Kita". Sebuah film garapan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.
Sebuah film yang bahkan belum ditonton banyak orang, tetapi sudah lebih dulu
dicurigai oleh banyak pihak. Bahkan, sebelum film ini membuahkan kecaman yang
lebih luas, acara penayangan film ini sudah lebih dulu dianggap berbahaya.
Membahas isu ini sudah lebih dulu dihalangi ruang diskusinya.
![]() |
| Penonton Film Dokumenter "Pesta Babi" di Yogyakarta. Papuan Lives Matter! (Dok. Social Movement Institute) |
Lucu sekaligus
menyedihkan. Kita hidup di zaman ketika sebuah dokumenter bisa membuat aparat
lebih panik daripada maraknya isu korupsi di lingkar kekuasaan negeri ini.
Padahal jika kita mau cermati, film ini sebenarnya tidak sedang membawa satu
bahasan yang benar-benar baru.
Film ini hanya
mengumpulkan serpihan realitas yang selama ini tercecer di pinggir dari
perhatian nasional. Hal yang kadamg terasa ironis, saat kita mengingat kalau
hajat hidup dari orang-orang dari wilayah Papua masih jadi isu yang
terpinggirkan dan luput dari perhatian masyarakat yang lebih luas. Padahal,
mereka juga bagian dari wilayah negeri ini, mereka juga bagian dari warga
negeri ini.
Film ini meliput
dampak hutan yang hilang, masyarakat adat yang tersingkir, proyek besar yang
datang atas nama suci pembangunan, dan suara-suara masyarakat adat yang sering
dianggap gerakan pengganggu kemajuan.
Film ini bergerak di
Papua Selatan. Mulai dari merauke, Boven Digoel, dan Mappi, beberapa wilayah
yang belakangan menjadi panggung ambisi besar negara melalui proyek strategis
nasional. Nama-nama programnya terdengar gagah, seperti food estate,
biodiesel sawit, bioetanol tebu, ketahanan pangan nasional. Semua terdengar
seperti mimpi tentang masa depan Indonesia yang mandiri, berdikari dan kuat
secara fondasi.
Tetapi sejarah sudah
mengajarkan satu hal pada kita, bahwa setiap proyek raksasa selalu punya
kemungkinan melahirkan korban yang sengaja tidak dihitung. Nama-nama yang
sengaja dibiarkan hilang tanpa satupun anggota keluarga mereka tahu. Dan korban
itu, lagi-lagi, adalah masyarakat yang tinggal paling jauh dari pusat kekuasaan
republik ini.
Di pusat kota besar
seperti Jakarta, tempat diamana kebijakan atas seluruh negeri diambil,
pembangunan sering dipahami sebagai hitung-hitungan angka. Kenaikan grafik
berarti tindakan yang sukses. Investasi masuk berarti potensi kemajuan.
Hutan berubah menjadi
kawasan industri dianggap tanda modernisasi. Tetapi di Papua, tanah bukan
sekadar aset ekonomi belaka. Tanah adalah tubuh kehidupan itu sendiri. Ada
relasi spiritual, relasi leluhur, relasi identitas yang tidak bisa
diterjemahkan hanya lewat proposal investasi atau pidato pejabat.
Inilah yang sering gagal dipahami dalam penyelenggaraan negara, bahwa tidak semua kehilangan bisa diganti uang.
Masyarakat Marind, Awyu, Yei, dan Muyu bukan sekadar “penduduk lokal” dalam pengertian administratif. Mereka hidup bersama tanahnya dengan hubungan yang jauh lebih dalam daripada konsep kepemilikan modern. Ketika hutan dibuka besar-besaran, yang hilang bukan cuma pepohonan. Yang ikut hilang adalah ruang ingatan, ruang ritual, ruang berburu, ruang hidup, bahkan rasa menjadi manusia yang utuh.
Namun ironi
pembangunan modern memang seperti itu. Ia terlalu sering datang dengan bahasa
yang indah tetapi langkah yang dingin. Negara berbicara tentang kesejahteraan
nasional, sementara masyarakat adat justru bertanya apakah mereka masih punya
tempat di masa depan. Pada titik ini, film Pesta Babi terasa seperti gamparan
keras bagi kita yang tidak ikut jadi korban kebijakan.
Film ini adalah bukti,
bahwa hanya lewat penayangan film saja publik bisa ikut gelisah. Kesadaran yang
timbul setelah menonton film ini menyadarkan kita bahwa pembangunan tidak
pernah netral. Selalu ada pihak yang diuntungkan lebih besar, dan selalu ada pihak
yang diminta berkorban lebih banyak. Masalahnya, yang diminta berkorban hampir
selalu orang-orang yang suaranya paling lemah.
Judul dokumenter
“Pesta Babi” sendiri terasa seperti tamparan simbolik yang terdengar kasar,
liar, bahkan provokatif di telinga. Tetapi justru karena itulah ia bekerja. Ada
pesta besar yang sedang berlangsung di Papua, pesta investasi, pesta
konsesi lahan, pesta jargon pembangunan, pesta ambisi elit politik dan
penguasa. Tetapi di tengah pesta itu, masyarakat adat justru berdiri sebagai
penonton yang dipaksa tersenyum di atas kehilangan yang mereka alami sendiri.
Yang membuat film ini
semakin kontroversial tentu adalah penggunaan istilah “kolonialisme”. Kata itu
seperti pemantik api dalam ruang publik Indonesia. Begitu diucapkan, emosi
publik dibuat langsung menyala. Banyak orang menolaknya mentah-mentah karena merasa
Indonesia tidak mungkin menjajah masyarakat dari pulau bernama Papua. Bukankah
Papua bagian dari Indonesia? Bukankah negara sudah membangun jalan, jembatan,
bandara, dan berbagai infrastruktur di sana?
Tetapi mungkin
persoalannya memang tidak sesederhana itu. Kolonialisme hari ini tidak selalu
hadir dalam bentuk penerjunan pasukan asing yang mengibarkan bendera di tanah
sebagai identitas penjajah. Bisa jadi ia hadir lewat relasi kuasa yang timpang.
Lewat pembangunan yang diputuskan oleh orang dari jauh, tanpa melibatkan
partisipasi masyarakat Papua secara bermakna. Menafikan keterlibatan masyarakat
lokal papua dalam pengambilan keputusan dan kebijakan.
Film ini juga
menampilkan bahwa, lewat eksploitasi sumber daya yang lebih banyak
menguntungkan pemerintahan pusat dibanding warga sekitar. Lewat situasi ketika
satu kelompok terus diminta beradaptasi demi kepentingan nasional, sementara
suaranya dan kepentingannya sendiri nyaris tak pernah benar-benar didengarkan.
Film ini tidak sedang
menawarkan jawaban soal benar yang salah, tidak juga membuktikan hitam-putih.
Tapi, justru sedang mengajukan pertanyaan yang membuat kita
bertanya-tanya secara tidak nyaman, "Apakah kita sungguh melihat Papua
sebagai subjek yang setara?," atau hanya sebagai wilayah yang harus terus
“diamankan” dan “dimanfaatkan”?
Dan mungkin justru
jawaban dari pertanyaan itu yang paling ditakuti oleh penguasa. Karena, selama
ini Papua terlalu sering dibicarakan tanpa benar-benar didengarkan. Kita lebih
nyaman melihat Papua sebagai objek pembangunan ketimbang manusia dengan pengalaman
sejarahnya sendiri. Narasi resmi negara selalu terdengar begitu dominan,
sementara suara masyarakat adat sering muncul hanya sebagai catatan kaki.
Maka ketika ada film
yang mencoba membalik arah kamera, dengan memperlihatkan Papua dari sudut
pandang mereka yang hidup langsung di tengah perubahan brutal itu, reaksi
defensif pun mulai muncul.
Diskusi film
dibubarkan. Persiapan nobar dibatalkan. Aparat datang dengan pertanyaan
intimidatif yang terasa seperti sesi interogasi. Kampus menjadi ruang senyap
yang gugup saat aparat bersepatu lars datang dengan muka sangarnya. Dan seperti
biasa, alasan yang dipakai hampir selalu sama, dalih menjaga ketertiban.
Padahal demokrasi yang
baik justru lahir dari keberanian menghadapi ketidaktertiban gagasan. Negara
yang kuat tidak takut pada film dokumenter. Negara yang percaya diri tidak
perlu sibuk memburu ruang diskusi mahasiswa. Hanya kekuasaan yang rapuh yang menganggap
percakapan sebagai ancaman.
Yang menarik,
pemerintah pusat melalui Yusril Ihza Mahendra sebenarnya sudah menyatakan bahwa
tidak ada pelarangan resmi terhadap film tersebut. Ia bahkan mengatakan bahwa
kritik adalah hal yang wajar dan masyarakat sebaiknya menonton lalu
mendiskusikannya secara terbuka.
Pernyataan itu
semestinya menjadi angin segar. Tetapi kenyataan di lapangan justru
memperlihatkan hal berbeda. Ada semacam refleks lama yang masih hidup, bahwa
ketakutan bahwa publik akan berpikir terlalu jauh jika Papua dibicarakan secara
jujur. Padahal menutup diskusi tidak pernah membuat masalah hilang. Ia hanya
membuat luka dipendam lebih dalam.
Indonesia sering
membanggakan diri sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara. Tetapi
demokrasi bukan sekadar soal pemilu lima tahunan atau kebebasan membuat konten
hiburan di media sosial. Demokrasi diuji justru ketika negara berhadapan dengan
suara yang mengganggu kenyamanan nasionalisme arus utama.
Apakah kita cukup
dewasa mendengar kritik tanpa buru-buru marah? Apakah kita cukup percaya diri membiarkan publik menilai sendiri?
Ataukah kita sebenarnya masih mewarisi
mentalitas lama yang menganggap rakyat harus terus diarahkan tentang apa yang
boleh dipikirkan?
Inilah ironi besar
republik ini. Kita begitu percaya diri berbicara tentang kebebasan, tetapi
sering gugup menghadapi pertanyaan yang terlalu jujur.
Film "Pesta
Babi" mungkin tidak sempurna. Semua karya dokumenter pasti punya sudut
pandang. Tetapi sudut pandang bukan dosa. Yang berbahaya justru ketika hanya
ada satu sudut pandang yang diizinkan hidup.
Sebab kalau negara
mulai takut pada film, pada diskusi kampus, pada percakapan warga, maka yang
sebenarnya sedang dipertontonkan bukan kekuatan, melainkan kecemasan. Dan
kecemasan itu lahir karena ada sesuatu yang belum selesai dalam cara kita
memandang Papua.
Selama bertahun-tahun, Papua selalu diposisikan dalam dua ekstrem: romantisasi eksotis atau ancaman keamanan. Jarang sekali ia diperlakukan sebagai ruang manusia biasa yang penuh kompleksitas. Ketika orang Papua marah, mereka dicurigai. Ketika mereka diam, penderitaannya dianggap tidak ada.
Padahal mungkin yang
mereka minta sebenarnya adalah hal sederhana. Mereka ingin didengar sebagai
manusia, bukan sekadar angka statistik pembangunan atau objek pidato politik.
Karena itu, diskusi tentang Papua seharusnya tidak dimulai dari rasa takut, melainkan
keberanian untuk mendengar pengalaman yang berbeda. Tidak semua kritik adalah
upaya memecah bangsa. Kadang kritik justru bentuk cinta paling serius terhadap
sebuah negara.
Dan mungkin itulah
pesan paling penting dari film ini, bahwa Indonesia tidak akan runtuh hanya
karena sebuah dokumenter diputar. Tetapi Indonesia bisa perlahan kehilangan
jiwanya jika terus membiasakan diri membungkam percakapan. Sebab bangsa yang
besar bukan bangsa yang anti kritik. Bangsa yang besar adalah bangsa yang cukup
matang untuk bercermin, bahkan ketika bayangan yang muncul terasa menyakitkan.
