Chairil Anwar hidup di masa ketika Indonesia
sedang mencari bentuk dirinya sendiri. Penjajahan belum benar-benar hilang dari
benak dan isi kepala banyak orang. Sastra masih bergerak dalam bahasa yang
sopan, rapi, dan penuh keteraturan. Di tengah suasana itu, Chairil muncul
seperti gangguan. Puisinya keras, pendek, kadang terasa seperti orang yang
sedang melawan sesuatu di dalam dirinya sendiri.
Ia bukan penyair yang lahir dari kehidupan tenang.
Hidupnya penuh kegelisahan, perpindahan, kesepian, dan pertarungan dengan
dirinya sendiri. Tetapi justru dari situ lahir puisi-puisi yang mengubah wajah
sastra Indonesia. Chairil membuat bahasa Indonesia terasa lebih hidup, lebih
dekat dengan emosi manusia yang sebenarnya.
Ketika Chairil menulis “Aku ini binatang jalang”,
banyak orang melihatnya hanya sebagai baris puisi yang liar. Padahal di balik
itu ada semacam pernyataan besar tentang hakikat manusia yang ingin hidup
secara bebas. Perjalanan Chairil adalah kisah tentang seseorang yang menolak
tunduk sepenuhnya pada lingkungan, norma tradisi, bahkan zamannya sendiri.
Di Masanya, Keberanian Seperti Itu Bukan Hal Kecil

Chairil Anwar di Sebuah Mural (Dok. Liputan 6)
Indonesia baru bergerak menuju kemerdekaan. Banyak
orang bicara tentang bangsa dan persatuan, tetapi Chairil membawa sesuatu
gagasan yang jauh lebih personal, yakni ide tentang kebebasan individu. Ia
seperti ingin mengatakan bahwa manusia merdeka bukan cuma manusia yang bebas
dari penjajah, tetapi juga manusia yang berani berpikir dengan kepalanya
sendiri.
Di tengah dunia sastra yang masih penuh aturan,
Chairil memaksa sastra Indonesia bergerak ke arah baru. Ia memotong
kalimat-kalimat yang terlalu manis. Ia membuang banyak basa-basi. Puisinya
terasa lebih melekat ke relung hati, kata-katanya tidak disemarakkan dengan
aturan, gaya bahasanya terasa lebih telanjang, dan lebih dekat dengan kehidupan
sehari-hari masyarakat.
Banyak orang kemudian melihat Chairil bukan cuma
sebagai penyair, tetapi sebagai simbol sastra generasi baru. Generasi yang
tidak ingin terus hidup dalam ketakutan dan kepatuhan yang buta. Bersama
kelompok Gelanggang, Chairil ikut membawa gagasan bahwa Indonesia yang merdeka
harus menjadi bangsa yang terbuka terhadap dunia, terbuka terhadap pemikiran
baru, dan berani berdiri sejajar dengan kebudayaan mana pun.
Sebab bagi Chairil, sastra bukan hanya meromantisasi
bunyi, atau mengeksploitasi keindahan kata-kata. Bagi Chairil, sastra adalah
cara manusia memahami hidupnya sendiri.
Hari ini, puluhan tahun setelah kematiannya,
karya-karya Chairil masih terus dibaca. Bukan cuma karena ia dianggap pelopor
sastra modern Indonesia, tetapi karena kegelisahan yang ia alami pada masanya
terasa masih dekat dengan kehidupan masyarakat. Dunia berubah, teknologi
berubah, cara manusia berkomunikasi berubah, tetapi rasa sepi, rasa takut, dan
keinginan untuk hidup bebas tetap ada dalam diri manusia.
Dan mungkin itu yang membuat eksistensi nama Chairil
tetap bertahan di benak banyak orang.
Ia tidak meninggalkan jabatan di kekuasaan yang cukup
untuk dikenang secara abadi oleh masyarakat. Tidak meninggalkan nominal harta
yang besar untuk diwariskan atau disumbangkan pada yayasan donor. Tapi, ia
meninggalkan satu permasalahan yang jauh lebih panjang umurnya, ialah
keberanian untuk menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus berusaha
menyeragamkan manusia.
Chairil tidak berusaha menjadi penyair yang
menyenangkan semua pihak. Ia tidak terlalu peduli apakah puisinya dianggap
terlalu liar, terlalu individualis, atau terlalu berbeda dari arus utama sastra
saat itu. Chairil menulis dengan caranya sendiri, dan itulah yang menbuatnya
melahirkan suara baru dalam gerakan sastra Indonesia.
Di balik sosoknya yang sering digambarkan keras
kepala, sebenarnya ada sosok manusia yang sangatlah rapuh. Banyak puisinya
dipenuhi kesadaran tentang kematian, tentang waktu yang berjalan terlalu cepat,
dan tentang hidup yang sewaktu-waktu bisa selesai. Chairil seperti hidup dengan
perasaan bahwa usianya tidak akan panjang. Barangkali karena itu puisinya
terasa begitu intens di hati pembacanya.
Ia menulis bukan seperti orang yang punya banyak
waktu. Ia menulis seperti seseorang yang sedang mengejar sesuatu sebelum
semuanya sudah terlalu terlambat. Ada tenaga, ada kemarahan, ada kesedihan,
tetapi juga ada semacam semangat hidup yang keras kepala di dalam
karya-karyanya.
Hal itu terasa dalam banyak puisinya. Bahkan ketika
Chairil bicara tentang kelelahan dan kematian, puisinya tidak sepenuhnya
menyerah. Selalu ada dorongan untuk tetap hidup, tetap melawan, tetap menjadi
manusia yang bebas. Dalam hal ini, Chairil sebenarnya tidak hanya bicara
tentang dirinya sendiri. Ia bicara tentang semua manusia.
Tentang manusia yang sering merasa sendirian di tengah
keramaian. Tentang manusia yang ingin dimengerti tetapi sulit menemukan tempat
untuk bisa berkata jujur. Tentang manusia yang berkali-kali harus berhadapan
dengan dunia yang mencoba mengatur bagaimana ia berpikir dan hidup. Karena itu,
karya-karya Chairil masih amat terasa tetap relevan sampai sekarang.
Di zaman ketika semuanya bergerak cepat dan manusia
semakin sibuk membangun citra dirinya masing-masing, karya-karya Chairil justru
terasa seperti pengingat bahwa hidup tidak selalu harus tampak tersusun dengan
aturan baku yang rapi.
Karyanya seperti menejawantahkan kegelisahan sebagai
bagian dari hakikat menjadi seorang manusia. Hakikat bahwa seseorang tidak
harus selalu terlihat kuat untuk bisa dianggap bermakna. Mungkin itu sebabnya
banyak anak muda tetap kembali membaca Chairil, bahkan puluhan tahun setelah ia
meninggal.
Mereka masih menemukan sesuatu yang terartikulasi
dengan jelas di sana. Kata-kata yang tidak dibuat-buat sekedar untuk
dieksploitasi sebagai keindahan.
Sebab, Chairil bukan sekadar nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Ia adalah suara tentang keberanian hidup sebagai diri sendiri, meski dunia di sekitar terus menuntut manusia untuk mengkotak-kotakan diri dan menjadi entitas yang seragam.