28 Tahun Paca Orde Baru: Sudah Bebas, Atau Masih Menjalani Part 2

Hari ini, Dua puluh delapan tahun lalu, jalanan Jakarta dipenuhi asap, teriakan, dan jerit-jerit ketakutan. Mahasiswa menduduki atap gedung parlemen..
Soeharto didampingi wakilnya, BJ Habibie, membacakan pidato pengunduran diri (Dok. AGUS LOLONG/AFP)

Di Sosial media kita sering menemukan cuplikan video-video pendek tentang romantisisme masa reformasi. Saat era kepemimpinan Presiden Soeharto digulingkan oleh kedigdayaan massa yang menolak berlanjutnya Pemerintaham Orde Baru.

Hari ini, Dua puluh delapan tahun lalu, jalanan Jakarta dipenuhi asap, teriakan, dan jerit-jerit ketakutan. Mahasiswa menduduki atap gedung parlemen. Orang-orang turun ke jalan bukan karena sedang mencari sensasi politik, tetapi karena memang ia sudah muak untuk dipimpin oleh Pemerintahan Soeharto. Massa sudah tak lagi takut pada gencatan senjata dan Tindakan militeristik, Masyarakat sudah mulai merasa hidup dalam periode kepemimpinan Soeharto sudah terlalu sesak untuk dipertahankan dalam diam.

Harga kebutuhan pokok rumah tangga melonjak. Nilai tukar Rupiah runtuh di pasar keuangan. Korupsi di Tengah apparat dan birokrasi Indonesia merajalela. Kekuasaan Soeharto dalam masa kepemimpinannya sudah terasa terlalu lama menggenggam negara seperti ia berfikir bahwa Indonesia adalah asset milik pribadi. Di tengah semua kekacauan itu, sebuah generasi memaksa sejarah bergerak, Generasi aktivis Reformasi 98.

Ketika Soeharto akhirnya jatuh pada 21 Mei 1998, persis 28 tahun di hari ini,  banyak orang percaya Indonesia sedang memasuki halaman baru. Ada harapan besar bahwa negara ini akhirnya bisa menjadi negeri yang dianugerahi pimpinan yang adil, pasar ekonomi yang lebih terbuka, dan praktik bernegara yang lebih manusiawi.

Hari ini, 28 tahun setelah itu, peristiwa yang terjadi di Tengah Masyarakat terasa jauh lebih menikam, apa sebenarnya yang berubah? . Lalu,  “apa yang ternyata tidak pernah benar-benar berubah?”.

Kalau kita mau untuk bicara secara jujur, Reformasi memang membawa banyak hal baik yang tidak bisa dipungkiri.  Jika Dulu orang takut bicara. Sekarang orang bisa mengkritik presiden secara terbuka di media sosial, meski ada saja kelompok yang melakukan serangan balik. Jika dulu pers dibungkam oleh apparat bersenjata. Sekarang media massa bis abergerak dnegan jauh lebih bebas. Meski ada saja kasus intimidasi yang dialamatkan pada wartawan. Jika dulu pemilu terasa seperti formalitas setiap 5 tahunan.

Sekarang rakyat benar-benar bisa memilih pemimpinnya langsung. Meski ada saja kasus-kasus kecurangan yang melibatkan TPS-TPS di banyak daerah. Jika kita berkaca dari kejadian itu, Ada banyak capaian demokrasi yang lahir dari darah, keberanian, dan kemarahan generasi 1998 yang berhenti patuh pada kekuasaan yang sudah terlalu lama mengangkangi kehidupan Masyarakat sehari-hari. Kita punya hutang budi pada generasi 98 yang telah melakukan perubahan mendasar yang vital bagi generasi kini.

Saat ini, Kita punya kebebasan sipil yang jauh lebih luas dibanding era Orde Baru. Kita punya ruang publik yang lebih terbuka luas untuk partisipasi publik. Kita punya masyarakat yang lebih berani untuk bersuara. Dan itu bukan hal kecil yang bisa diremehkan. Tetapi semakin bertambah Panjang deretan hari peringatan pasca Reformasi, semakin terasa bahwa mengganti sistem ternyata jauh lebih mudah daripada mengganti mentalitas kekuasaan. Karena meski rezim berubah, banyak watak lama tetap bertahan hidup.

Kita memang tidak lagi hidup di bawah otoritarianisme yang menari telanjang seperti dulu. Tidak ada lagi kontrol total ala negara terhadap seluruh kehidupan warga. Tetapi bentuk kekuasaan hari ini justru menjadi lebih terstrruktur, lebih modern, dan juga ambisi pribadi yang dibungkus oleh moral jadi lebih sulit dikenali.

Jika Dulu orang dibungkam dengan todongan senjata dari Dwifungsi militer di ranah sipil. Sekarang Masyarakat bisa dibungkam dengan propaganda, buzzer, kriminalisasi digital, dan penggiringan opini lewat pencacahan algoritma. Jika Dulu media dikontrol langsung oleh departemen Penerangan di bawah asuhan tangan kanan Soeharto yang Bernama Harmoko.

Sekarang media bisa dilemahkan lewat kepentingan politik dan ekonomi dan skema keberpihakan. Jika dulu rakyat takut pada negara dan tangan besi penguasanya. Hari ini rakyat sering dibuat takut pada sesama rakyatnya sendiri yang saling serang dan saling ancam. Maka di situlah letak ironi pasca Reformasi mulai terasa.

Setelah Kita berhasil meruntuhkan simbol kekuasaan lama, tetapi belum sepenuhnya berhasil membangun budaya demokrasi yang matang. Korupsi yang dulu menjadi musuh utama Reformasi ternyata tidak benar-benar hilang di tangan penguasa baru. Ia hanya berganti bentuk, berganti rupa, berganti wajah, dan sesekali memakai tata cara dan tata bahasa yang terasa lebih modern.

Nepotisme juga tidak benar-benar mati. Jika dulu kita marah pada politik keluarga, kroniisme dan konco-isme Orde Baru. Tetapi hari ini politik dinasti tumbuh subur secara merata hampir di mana-mana, dari wilayah pusat sampai daerah terpencil. Nama besar keluarga pejabat menjadi modal kekuasaan. Kedekatan politik sering lebih menentukan daripada kapasitas. Dan yang lebih menyedihkan adalah Ketika masyarakat perlahan mulai terbiasa melihat semua itu. Inilah bahaya terbesar setelah hampir tiga dekade Reformasi.

Ketika bangsa mulai menganggap penurunan standar moral sebagai sesuatu yang normal. Orang-Orang sudah terlalu sering melihat korupsi sampai tidak lagi terkejut. Masyarakat sudah terlalu sering melihat konflik kepentingan sampai merasa itu biasa. Warga negara sudah terlalu sering melihat kekuasaan bermain citra sampai lupa seperti apa ketulusan politik seharusnya terlihat. Padahal Reformasi dulu lahir justru karena rakyat muak terhadap keadaan seperti itu.

Ada juga perubahan lain yang terasa sangat besar, diantara hubungan antara rakyat dan kekuasaan hari ini makin emosional, bukan rasional. Politik berubah seperti fandom favoritisme. Orang-Orang gemar  membela politisi seperti membela klub sepak bola. Kritik Langkah politik dan arah kebijakan malah sering dianggap serangan pribadi. Diskusi-Diskusi intelektual berubah jadi perang identitas dan golongan. Dampaknya? demokrasi kita sering ramai dibicarakan Dimana-mana, tetapi miskin kedewasaan.

Tidak kalah ironi, bahwa generasi muda yang dulu menjadi motor Reformasi sekarang hidup di zaman yang jauh lebih rumit. Hari ini, Mereka memang lebih bebas bicara, tetapi juga hidup di Tengah himpitan ekonomi dan biaya hidup yang semakin berat, kompetisi kerja yang kian brutal, krisis kesehatan mental yang menjangkiti generasi muda Indonesia, dan masa depan yang terasa makin terasa samar untuk disebut “Generasi Emas”.

Banyak anak muda sekarang tidak lagi bermimpi besar tentang perubahan negara. Mereka cuma berharap bisa hidup dengan ekonomi stabil. Tentu setelah menyaksikan apa yang terjadi saat ini di Tengah Masyarakat kita, suara-suara itu jadi terasa menyedihkan. Menyaksikan bahwa rezim otoriter yang telah mereka perjuangkan hingga digulungkan dengan susah payah, diharga dengan ironi pemerintahan demokratis yang penuh ironi.

Karena bangsa yang sehat seharusnya membuat generasi mudanya berani membayangkan masa depan, bukan sekadar bertahan hidup mencari uang makan dari bulan ke bulan. Sementara itu, elite politik terus berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, bonus demografi, dan Indonesia Emas 2045. Lalu, gagasan tentang Indonesia emas sebenarnya untuk siapa?

Karena pertumbuhan ekonomi tidak otomatis berarti keadilan sosial bagi Masyarakat. Pembangunan Gedung bisa saja bertambah tinggi dan jumlahnya sambil rakyat tetap merasa cemas secara ekonomi. Investasi yang masuk ke dalam negeri bisa saja terus naik sambil Masyarakat harus membayar biaya pendidikan yang makin mahal harganya.

Proyek-proyek strategis bisa saja diresmikanoleh para pejabat negara,  sambil masyarakat kehilangan rasa percaya pada negara. Dan mungkin inilah refleksi kita untuk mengilustrasikan gambaran paling gambling soal Kondisi Indonesia setelah 28 tahun terjadinya reformasi.

Mungkin, saat ini negeri kita sudah berhasil menjadi negeri yang terbuka secara system, melibatkan rakyat dalam kebputusan Pembangunan, lebih demokratis secara prosedural, tetapi belum sepenuhnya bisa menjamin keadilan sosial masyarakatnya.

Mungkin, Kita sudah berhasil membuka ruang kebebasan, tetapi belum benar-benar menciptakan kesejahteraan yang merata. Mungkin juga Kita berhasil menjatuhkan satu rezim, tetapi belum sepenuhnya menghancurkan budaya feodal dalam politik. Lalu apa yang seharusnya dilakukan hari ini?

Mungkin pertama-tama kita perlu berhenti memperlakukan Reformasi sebagai sekadar upacara tahunan. Reformasi merupakan peringatan, bukan nostalgia. Gagasan Reformasi bukan cuma jargon dalam kaos aktivis 98. Bukan sekadar postingan hitam-putih setiap kalender memasuki bulan Mei.

Reformasi seharusnya menjadi pengingat moral agar bangsa ini terus mengoreksi dirinya sendiri. Karena demokrasi tidak pernah selesai dibangun. Demokrasi bisa mundur kapan saja ketika masyarakat mulai lelah berpikir, takut mengkritik, atau terlalu sibuk saling membenci sesame warga negara.

Mungkin tugas generasi hari ini bukan lagi menjatuhkan diktator seperti 1998. Tetapi menjaga agar demokrasi tidak perlahan dikosongkan maknanya. Menjaga agar kritik yang dilayangkan warga kepada pengampu kebijakan tidak dianggap ancaman dan berbalik menjadi intimidasi.

Mungkin, saat ini tugas kita ialah menjaga agar hukum tidak tunduk pada kekuasaan. Menjaga juga agar negara tidak kembali dikuasai segelintir elit politik  yang merasa Indonesia adalah warisan keluarga, jaringan politik mereka, atau justru merasa negeri ini asset yang boleh mereka berikan kea nak cucu secara turun temurun.

Sebab, memang mungkin Orde Baru mungkin memang sudah jatuh. Tetapi semangat kekuasaan yang ingin mengontrol, membungkam, dan mempertahankan privilese dengan segala cara bisa hidup kembali kapan saja dalam wajah yang baru, baik itu orang-orang lama, ataupun orang-orang baru dengan mental Orde Baru.

Perlu kita semua ingat dan tanamkan dalam kepala, bahwa  sejarah selalu mengajarkan kalau otoritarianisme tidak kembali datang dengan seragam lama. Tapi ia datang dengan wajah-wajah yang lebih ramah, cara dan pendekatan yang lebih modern, dan lebih pintar memainkan citra dalam sistem demokrasi.

Posting Komentar