Di era di mana “kekayaan instan” dikemas dalam bentuk webinar, kursus online, dan sinyal investasi, industri finansial modern menemukan ladang subur: harapan masyarakat yang terhimpit ketidakpastian ekonomi. Platform dan influencer finansial menjual janji sederhana: beli, ikuti, atau investasikan, dan kamu akan cepat kaya. Di balik jargon seperti “pasar volatile,” “risk management,” atau “high yield opportunity” tersembunyi strategi yang jauh lebih gelap: penipuan yang memanfaatkan keserakahan dan ketidaktahuan ritel.
Fenomena ini bukan kebetulan. Banyak influencer finansial di Indonesia dan global menjual financial hope tanpa kredensial yang memadai tanpa sertifikasi CFA, tanpa pengalaman pasar yang sahih namun berbicara dengan keyakinan yang meyakinkan. Mereka membuat rekomendasi dan argumentasi yang salah, namun menolak bertanggung jawab ketika ribuan orang terjerumus. “Pasar volatile” dijadikan tameng legal dan psikologis: kegagalan tidak lagi kesalahan mereka, melainkan “risiko pasar” yang alami. Padahal, banyak rekomendasi yang mereka sebarkan sama sekali tidak berbasis analisis fundamental, hanya trend, rumor, dan strategi pump-and-dump yang menguntungkan segelintir orang.
Masalah ini diperparah oleh kurangnya skeptisisme kritis masyarakat. Banyak ritel menganggap setiap iming-iming cepat kaya sebagai peluang, dan tidak memeriksa kredibilitas narasumber, track record, atau risiko sistemik. Keserakahan kolektif ini ingin untung besar dengan usaha minimal menjadi bahan bakar bagi industri penipuan. Pendidikan finansial, yang mestinya mengajarkan manajemen risiko dan analisis kritis, seringkali digantikan oleh dorongan psikologis: fomo (fear of missing out), janji keberhasilan instan, dan testimoni manipulatif.
Ini adalah jebakan epistemik dan moral. Sistem pasar modern dikemas sebagai meritokrasi: siapa yang cepat bertindak akan menang. Namun realitasnya berbeda: mereka yang paling terdorong oleh ketamakan dan minim analisis kritis menjadi korban, sedangkan pembuat narasi yang memanfaatkan ketidaktahuan menikmati keuntungan tanpa konsekuensi. Retorika industri kekayaan menciptakan ilusi mobilitas sosial cepat, sementara sebenarnya menahan banyak orang dalam lingkaran kemiskinan dan kekecewaan finansial.
Kritik terhadap fenomena ini bukan anti-investasi atau anti-pasar; ini seruan agar masyarakat memulihkan skeptisisme dan literasi finansial kritis. Masyarakat harus mampu menilai siapa yang layak dipercaya, menanyakan bukti di balik klaim, dan menyadari bahwa keuntungan besar selalu dibarengi risiko besar bahkan risiko moral dari orang yang seharusnya memberi panduan. Tanpa skeptisisme itu, industri penipuan harapan akan terus hidup, karena ritel greedy selalu ada, dan janji instan selalu laku.
Di level struktural, regulator juga memegang peran penting. Ketika pengawasan lemah, edukasi finansial tidak memadai, dan influencer bebas berkhotbah soal kekayaan instan, masyarakat dibiarkan berhadapan dengan risiko moral dan finansial sendiri. Harapan dijual, kesalahan disembunyikan di balik jargon, dan korban adalah mereka yang terlalu percaya, terlalu cepat ingin kaya, atau terlalu jarang mempertanyakan.
Intinya, industri kekayaan modern memanfaatkan dua hal: ketamakan individu dan krisis skeptisisme kolektif. Ia hidup dari rasa ingin instan, menjual mimpi sebagai produk, dan menolak bertanggung jawab ketika mimpi itu runtuh. Mengatasi ini membutuhkan pendidikan kritis, kesadaran epistemik, dan keberanian untuk menolak narasi instan. Hanya dengan itu, masyarakat dapat berhenti menjadi konsumen pasif harapan palsu dan mulai menjadi agen keputusan finansial yang sadar.
Referensi:
1. Shiller, R. J. (2015). Irrational Exuberance (3rd ed.). Princeton University Press.
2. Taleb, N. N. (2018). Skin in the Game: Hidden Asymmetries in Daily Life. Random House.
3. Akerlof, G. A., & Shiller, R. J. (2009). Animal Spirits: How Human Psychology Drives the Economy, and Why It Matters for Global Capitalism. Princeton University Press.
4. Lusardi, A., & Mitchell, O. S. (2014). The Economic Importance of Financial Literacy: Theory and Evidence. Journal of Economic Literature, 52(1), 5–44.
