Segera Terbit! Ed. Februari 2026. Baca laporan selengkapnya Get now!

Literasi Masyarakat Hari Ini Ditentukan Siapa yang Didengar

Di era informasi instan, kita sering salah kaprah soal literasi. Banyak orang berpikir bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Padahal, krisis literasi hari ini bukan soal huruf atau teks, melainkan soal otoritas pengetahuan: siapa yang kita dengar, siapa yang kita percayai, dan mengapa. Orang bisa membaca cepat, mengutip berita, bahkan menulis komentar panjang, tetapi tetap mudah percaya hoaks, narasi viral, atau opini selebritis sementara mengabaikan ahli, ilmuwan, dan pengalaman kolektif yang sahih.

(image: Radar Madiun) 

Fenomena ini bukan kebetulan. Kepercayaan tidak lahir hanya dari kata-kata tertulis, tetapi dari narasi yang dekat, yang terasa relevan, dan yang memvalidasi pengalaman pribadi. Hoaks bekerja karena mereka merespons rasa cemas, frustrasi, atau ketidakadilan yang nyata. Mereka memanfaatkan celah epistemik: orang mendengar sesuatu yang sesuai pengalaman mereka, bukan sesuatu yang benar secara metodologis. Misalnya, cerita urban tentang vaksin, politik, atau ekonomi bisa lebih dipercaya daripada riset ilmiah, karena riset tampak abstrak, jauh, dan terputus dari kehidupan sehari-hari.

Krisis literasi ini juga membuktika  kegagalan institusi dan pendidikan formal. Sekolah mengajarkan cara membaca teks, menganalisis informasi, dan menulis esai, tetapi jarang mengajarkan literasi kritis terhadap otoritas dan konteks. Anak-anak diajarkan “ini benar karena ada di buku” atau “percayalah pada guru”, tanpa memahami bagaimana pengetahuan dibangun, diuji, dan dipertanggungjawabkan. Akibatnya, ketika teks ilmiah bertabrakan dengan narasi yang terasa lebih dekat, banyak yang memilih narasi yang resonan secara emosional, bukan secara epistemik.

Lebih dari itu, pengalaman hidup individu menjadi sumber otoritas yang tak tergantikan. Orang sering mengutamakan cerita tetangga, pengalaman keluarga, atau kisah viral daripada buku atau data statistik. Hal ini masuk akal: manusia memahami dunia melalui pengalaman, bukan abstraksi. Masalah muncul ketika pengalaman personal dikapitalisasi oleh media, influencer, atau politikus untuk membentuk kebenaran palsu, sehingga literasi praktis kemampuan menilai dan memverifikasi digantikan oleh literasi emosional dan sensasional.

Akibatnya, hoaks dan misinformasi berkembang subur bukan karena orang bodoh, tetapi karena sistem otoritas pengetahuan gagal membangun kepercayaan. Ahli diasingkan oleh bahasa teknis, lembaga pendidikan jarang menghubungkan teori dengan realitas sehari-hari, dan media sosial memperkuat bias konfirmasi. Literasi sejati tidak hanya soal membaca; ia soal menempatkan siapa yang pantas didengar, kapan, dan mengapa.

Untuk menghadapi krisis ini, kita perlu memindahkan fokus dari kompetensi mekanis membaca ke kompetensi epistemik. Literasi harus melibatkan pertanyaan kritis: siapa sumbernya, bagaimana mereka sampai pada kesimpulan, apakah klaim itu diuji secara transparan, dan bagaimana konteksnya. Pendidikan harus mengajarkan anak-anak untuk menilai narasi, bukan sekadar menyerap informasi. Masyarakat perlu menumbuhkan budaya mendengar yang kritis, bukan mendengar yang nyaman.

Krisis literasi adalah krisis kepercayaan. Ia menuntut kita mempertanyakan asumsi bahwa membaca otomatis menghasilkan pemahaman yang benar. Membaca tanpa kritik adalah ritual kosong. Percaya pada narasi tanpa memeriksa otoritasnya adalah jalan menuju manipulasi massal. Literasi bukan tentang kuantitas teks yang dikonsumsi, tapi tentang kualitas penilaian: apa yang kita percaya, dan kenapa kita percaya itu.

Hanya ketika masyarakat belajar menilai siapa yang pantas didengar, literasi akan benar-benar melampaui sekadar huruf dan kata, menjadi alat untuk membangun kesadaran, kebijaksanaan, dan kekebalan terhadap tipu daya informasi. Tanpa itu, membaca hanyalah kebiasaan mekanis, dan pengetahuan sejati akan tetap dijual murah oleh suara-suara yang paling nyaring, bukan yang paling benar.


Referensi:

1. Buckingham, D. (2003). Media Education: Literacy, Learning and Contemporary Culture. Polity Press.

2. Lewandowsky, S., Ecker, U. K. H., & Cook, J. (2017). Beyond Misinformation: Understanding and Coping with the “Post-Truth” Era. Journal of Applied Research in Memory and Cognition, 6(4), 353–369.

3. Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. Continuum.

4. Zuboff, S. (2019). The Age of Surveillance Capitalism. PublicAffairs.

Posting Komentar