Ilustrasi - Global Strategi
Kita tumbuh dengan satu asumsi yang jarang dipertanyakan: bahwa kekuasaan selalu membutuhkan pemerintahan. Negara dianggap sebagai prasyarat mutlak bagi keteraturan, hukum, dan kehidupan bersama. Tanpa pemerintah, kata kita, yang ada hanyalah kekacauan. Narasi ini begitu dominan, begitu “masuk akal”, hingga alternatif apa pun langsung dicap utopis, naif, atau berbahaya.
Namun sejarah jika dibaca secara objektif tidak selalu membenarkan asumsi itu. Ada momen-momen ketika kekuasaan justru berjalan tanpa pemerintahan. Momen ketika rakyat mengorganisasi hidupnya sendiri, bukan melalui negara, tetapi melalui solidaritas, koperasi, dan keputusan kolektif. Salah satu contoh paling jelas dan paling sering dihapus dari buku sejarah arus utama terjadi di Spanyol pada paruh pertama abad ke-20, ketika rezim anarkis berbasis koperasi pernah menjadi realitas, bukan sekadar teori dalam buku bacaan.
Meski Sejarah Memaksa Dunia Melupakan Sejarah ini. Jejaknya tidak mungkin sepenuhnya dihilangkan dari memori koletif dunia. Hingga hari ini, Catalunya masih menjadi wilayah yang secara historis dan politis menolak sepenuhnya tunduk pada kekuasaan pemerintah Pusat Spanyol di Madrid. Bukan sekadar separatisme administratif, tetapi penolakan terhadap cara negara memusatkan di tangan mana kuasa dikendalikan.
Ketika Rakyat Mengambil Kuasa Hidupnya Sendiri
Ketika orang mendengar kata “anarki”, yang terbayang biasanya adalah terminologi media yang mengasosiasikan makna nya degn "kekacauan", tidak ada hukum, tidak ada aturan, semua orang berbuat sesukanya. Ini karikatur yang disengaja. Dalam praktik historisnya khususnya di Spanyol anarkisme justru berarti organisasi tanpa negara, bukan ketiadaan organisasi.
Pada masa Perang Saudara Spanyol (1936–1939), terutama di wilayah Catalunya dan Aragon, kekuasaan negara runtuh. Namun yang terjadi bukan kekosongan, melainkan pengisian oleh rakyat. Pabrik-pabrik diambil alih oleh pekerja. Lahan pertanian dikelola secara kolektif. Transportasi, layanan publik, bahkan rumah sakit dijalankan melalui federasi pekerja dan koperasi.
Ini bukan eksperimen kecil. Di Barcelona, industri-industri besar tekstil, listrik, transportasi dikelola oleh serikat buruh, khususnya CNT (Confederación Nacional del Trabajo). Keputusan tidak diambil oleh menteri atau teknokrat negara, melainkan melalui hasil dari rapat kolektif. Upah disetarakan, hierarki dipangkas, dan orientasi produksi diarahkan pada kebutuhan sosial, bukan akumulasi modal.
Yang menarik, produktivitas industri tidak runtuh, dan justru meningkat oleh insentif motivasional dari kelompok pekerja yang berkecimpung didalamnya. Disiplin tidak dipaksakan dari atas, tetapi tumbuh dari rasa kepemilikan bersama. Ini membongkar satu mitos besar kapitalisme dan negara modern yang bilang, bahwa manusia hanya bisa bekerja jika diawasi atau dipaksa.
Kekuasaan vs Pemerintahan, Dua Hal yang Tidak Selalu Sama
Pengalaman anarkisme Spanyol memaksa kita membedakan dua hal yang sering disamakan, antara kekuasaan dan pemerintahan. Pemerintahan adalah institusi formal negara, yang berisi aparat, birokrasi. Kekuasaan adalah kemampuan nyata untuk mengatur kehidupan bersama, menentukan arah produksi, distribusi, dan nilai-nilai sosial yang menjadi dasar bertindak.
Negara modern mengklaim dirinya sebagai satu-satunya sumber kekuasaan yang sah. Namun pengalaman Spanyol menunjukkan bahwa klaim ini bersifat ideologis, bukan faktual. Kekuasaan bisa lahir dari bawah, dari organisasi sosial, dari solidaritas horizontal tanpa harus dilembagakan dalam negara.
Di sini, anarkisme bukan berarti anti-aturan, melainkan anti-monopoli aturan. Ia menolak gagasan bahwa segelintir elite entah disebut pemerintah, parlemen, atau oligarki berhak mengatur hidup jutaan orang atas nama stabilitas.
Justru, anarkisme Spanyol memperlihatkan bahwa ketertiban bisa lahir dari kesepakatan kolektif, bukan paksaan hukum.
Mengapa Anarkisme Spanyol Dihancurkan?
Jika sistem ini begitu fungsional, mengapa ia runtuh? Jawabannya penting: bukan karena kegagalan internal semata, melainkan karena ia terlalu berbahaya bagi tatanan kekuasaan global.
Anarkisme Spanyol tidak hanya dimusuhi oleh kaum fasis Franco, tetapi juga oleh kekuatan yang seharusnya menjadi sekutunya: negara-negara liberal dan bahkan Uni Soviet. Mengapa? Karena rezim koperasi ini membuktikan satu hal yang tidak boleh terbukti: bahwa rakyat bisa mengatur dirinya sendiri tanpa negara dan tanpa kapital besar.
Bagi oligarki baik kapitalis liberal maupun negara sosialis sentralistik contoh seperti ini adalah ancaman eksistensial. Maka anarkisme Spanyol dihancurkan secara militer, politik, dan naratif. Dalam buku sejarah, ia direduksi menjadi “kekacauan revolusioner”. Dalam diskursus modern, ia hampir tak pernah disebut sebagai alternatif serius.
Jejak perlawanan itu belum sepenuhnya padam. Catalunya hari ini bukan sekadar wilayah yang ingin merdeka secara administratif. Ia adalah ruang historis yang terus mempertanyakan legitimasi kekuasaan negara Spanyol.
Gerakan kemerdekaan Catalunya bukan hanya soal bendera atau bahasa, tetapi tentang siapa yang berhak menentukan hidup bersama. Referendum 2017 yang dianggap ilegal oleh Madrid adalah ekspresi paling jelas dari konflik ini. Negara berkata: “kalian tidak berhak memilih.” Rakyat menjawab: “legitimasi berasal dari kami, bukan dari konstitusi yang tidak kami setujui.”
Penolakan Catalunya terhadap pemerintah Spanyol bukan berarti ketiadaan organisasi. Justru sebaliknya: masyarakat sipilnya sangat terorganisir, berbasis komunitas, koperasi, dan institusi lokal. Ini menunjukkan kontinuitas historis: kecurigaan terhadap kekuasaan terpusat, dan kepercayaan pada kapasitas rakyat.
Oligarki dan Ketakutan terhadap Kuasa Rakyat
Mengapa narasi “kekuasaan tanpa pemerintahan” selalu ditertawakan? Karena ia mengancam fondasi oligarki modern. Negara hari ini di mana pun sering kali bukan representasi rakyat, melainkan alat pengelolaan kepentingan elite ekonomi dan politik.
Oligarki membutuhkan negara untuk: memonopoli hukum, mengamankan properti dan akumulasi modal, mengendalikan tenaga kerja, dan menormalkan ketimpangan sebagai “keniscayaan”
Model anarkis koperasi membalik logika ini. Produksi untuk kebutuhan, bukan laba. Keputusan diambil oleh mereka yang terdampak, bukan oleh mereka yang berkuasa. Dalam kerangka ini, oligarki kehilangan pijakan.
Maka tidak mengherankan jika sistem semacam ini selalu dilabeli “tidak realistis” bukan karena ia tidak pernah berhasil, tetapi karena ia pernah berhasil, dan itu berbahaya. Negara Bukan Takdir.
Pengalaman Spanyol dan Catalunya memberi pelajaran filosofis yang penting: negara bukan takdir sejarah. Ia adalah salah satu bentuk organisasi kekuasaan bukan satu-satunya, dan bukan yang paling alamiah.
Kita terlalu sering menganggap negara sebagai puncak evolusi politik manusia. Padahal, ia adalah konstruksi historis yang lahir dari konflik, penaklukan, dan kompromi kekuasaan. Jika ia pernah lahir, ia juga bisa ditinggalkan, diubah, atau dilampaui.
Ini bukan ajakan untuk romantisasi anarki atau meniru mentah-mentah pengalaman Spanyol. Konteks berbeda. Zaman berbeda. Tetapi pelajarannya relevan: bahwa imajinasi politik kita telah terlalu lama disandera oleh negara.
Kekuasaan tanpa pemerintahan bukan mitos. Ia pernah terjadi. Ia bekerja. Dan ia dihancurkan bukan karena gagal, tetapi karena terlalu mengancam.
Spanyol melalui pengalaman anarkisme dan perlawanan Catalunya menunjukkan bahwa rakyat memiliki kapasitas untuk mengorganisasi hidupnya sendiri, tanpa harus tunduk pada oligarki yang bersembunyi di balik institusi negara. Sejarah ini tidak dimaksudkan untuk nostalgia, melainkan untuk membuka kembali pertanyaan yang sengaja ditutup: apakah kita benar-benar membutuhkan pemerintahan seperti yang kita kenal hari ini?
Mungkin yang kita butuhkan bukan negara yang lebih kuat, tetapi rakyat yang lebih berdaulat. Bukan pemerintahan yang semakin sentralistik, tetapi kekuasaan yang kembali ke tangan mereka yang menjalani hidup itu sendiri.
Dan selama sejarah seperti Spanyol terus disembunyikan, perjuangan untuk membayangkan alternatif akan selalu dianggap mustahil. Padahal, ia pernah nyata.
Referensi
Bookchin, M. (1974). The Spanish anarchists: The heroic years, 1868–1936. Free Life Editions.
Bookchin, M. (1982). The ecology of freedom: The emergence and dissolution of hierarchy. Cheshire Books.
Bookchin, M. (1995). From urbanization to cities: Toward a new politics of citizenship. Cassell.
Chomsky, N. (2005). Chomsky on anarchism (B. Pateman, Ed.). AK Press.
Dolgoff, S. (1974). The anarchist collectives: Workers’ self-management in the Spanish Revolution, 1936–1939. Free Life Editions.
Dolgoff, S. (1980). Bakunin on anarchism. Black Rose Books.
Orwell, G. (1989). Homage to Catalonia. Penguin Books.
Guérin, D. (1970). Anarchism: From theory to practice (M. Klopper, Trans.). Monthly Review Press.
Mintz, F. (2013). Anarchism and workers’ self-management in revolutionary Spain. AK Press
Graeber, D. (2011). Fragments of an anarchist anthropology. Prickly Paradigm Press.
Graeber, D. (2013). The democracy project: A history, a crisis, a movement. Spiegel & Grau.
