![]() |
| Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto. (Dok. Istimewa) |
Dalam kondisi Inflasi mata uang dan instabilitas harga sembako yang terus mengganggu akal sehat dalam negeri. Juga di tengah berbagai serangan yang diarahkan kepada Tiyo Ardianto, seorang aktivis mahasiswa asal Universitas Gadjah Mada (UGM) yang rajin menyuarakan kegelisahakn Masyarakat perihal sosial, politik dan ekonomi.
Dikotomisasi tentu saja terjadi. Terpilihnya Presiden
Prabowo muncul karena adanya dukungan di Tengah Masyarakat sebelum ia menjabat.
Namun, maslaahnya adalah kontroversi yang bermunculan di masa jabatannya
memunculkan kegelisahaan yang kian terasa oleh seluruh Masyarakat Indonesia melahirkan
juga orang-orang yang mulai mengkritisinya, bahkan di kalangan pendukungnya
dahulu.
Di Tengah arus kegelisahan Masyarakat yang tidak
disuarakan secara terbuka, lahirlah sosok seorang pemuda asal Kudus yang
berkuliah jurusan Filsafat di UGM yang rutin menyuarakan kritiknya dalam
berbagai forum publik. Dentingan suara yang mendukung dan menolak atas Tindakan
dan aksinya marak terjadi. Tapi, jika semua orang Indonesia mengalami apa yang
sedang dialaminya hari ini, berapa banyak yang sanggup bertahan?
Pertanyaan itu penting karena terlalu banyak orang
mengkritik keberpihakan Tiyo dari posisi yang aman. Terlalu banyak orang
melabelinya sebagai anak muda pencari panggung, pembuat kegaduhan, atau aktivis
yang dianggap berlebihan, tanpa pernah membayangkan seperti apa harga yang
harus dibayar untuk berdiri di posisi yang ia tempati seperti saat ini.
Mudah sekali menulis komentar sinis di kolom postingan
dari balik layar ponsel tanpa harus berjibaku dengan ancaman pihak aparat.
Mudah sekali membuat olok-olok di media sosial seakan tekanan sosial dan
ekonomi yang Masyarakat alami ikut juga mereka rasakan. Mudah sekali menuduh
seseorang mencari perhatian. Namun keberanian selalu terlihat sederhana ketika
risikonya ditanggung oleh orang lain.
Banyak orang lupa, bahwa Tiyo tidak sedang
memperjuangkan persoalan yang hanya menyangkut dirinya sendiri. Ia tidak sedang
berbicara tentang kepentingan pribadinya. Ia tidak sedang menuntut fasilitas
untuk keluarganya. Ia tidak sedang memperjuangkan kenaikan kualitas hidup
dirinya seorang. Ia berbicara di panggung public tentang persoalan yang
menyentuh kehidupan jutaan warga negara, yakni kebutuhan pokok dan kebijakan
pemerintah.
Ia berbicara tentang kemiskinan yang masih menjadi
kenyataan bagi banyak keluarga Indonesia. Ia berbicara tentang pendidikan yang
semakin sulit dijangkau sebagian masyarakat. Ia berbicara tentang warga yang
kehilangan pekerjaan dan dipaksa memulai hidup dari nol. Ia berbicara tentang
generasi muda yang semakin sulit membayangkan masa depan yang stabil.
Tiyo berbicara tentang rakyat yang setiap hari harus menghitung ulang pengeluaran karena penghasilan mereka tidak tumbuh secepat kebutuhan hidup. Dengan kata lain, ia sedang berbicara tentang persoalan yang juga dialami oleh orang-orang yang hari ini menyerangnya. Di situlah letak ironi yang menyedihkan dari gejala sosial Masyarakat Indonesia yang menyerang orang yang memperjuangan Nasib hidup mereka.
Orang-orang yang merasakan tekanan ekonomi justru ikut
menyerang orang yang mengangkat isu ekonomi. Orang-orang yang mengeluhkan biaya
hidup justru ikut mengejek orang yang mempertanyakan kebijakan publik. Orang-orang
yang merasa hidup mereka semakin sulit justru ikut menghardik orang yang
mencoba menjadikan kesulitan itu sebagai agenda politik yang harus dibicarakan.
Seolah-olah kemarahan mereka salah alamat. Seolah-olah
orang yang meniup peluit tanda bahaya dianggap lebih berbahaya daripada
kebakaran itu sendiri. Padahal, sebagian besar dari kita tidak akan sanggup
menjalani apa yang dialami Tiyo. Sebagian besar dari kita kemungkinan akan
memilih diam jauh sebelum ancaman pertama datang. Kita akan memilih menjaga
kenyamanan hidup, menghindari konflik, mengamankan pekerjaan, dan melindungi
keluarga dari risiko yang tidak perlu.
Pilihan itu terdengar seolah pilihan hidup yang
manusiawi.Tidak semua orang harus menjadi aktivis. Seakan mengimani bahwa tidak
semua orang harus menjadi oposisi, tidak semua orang harus berdiri di garis
depan. Tetapi justru karena itulah terasa aneh ketika orang-orang yang tidak
bersedia mengambil risiko yang sama kemudian merasa berhak meremehkan mereka
yang mengambil risiko tersebut.
Bagaimana mungkin seseorang yang tidak berani berjalan
ke area demonstrasi yang sama justru sibuk mengajari orang lain cara berjalan?
Lalu, Bagaimana mungkin seseorang yang tidak ikut memikul beban perjuangan
merasa paling berhak menghakimi perjuangan itu?
Lebih aneh lagi ketika tuduhan yang digunakan adalah
tuduhan klasik bahwa Tiyo hanya sedang mencari panggung. Tuduhan semacam ini
terdengar klikbait dalam narasi di permukaan, tetapi pemahaman ini akan runtuh
begitu diuji dengan penalaran sederhana.
Sebab jika tujuan seseorang hanyalah popularitas, ada
banyak jalan yang lebih aman dan lebih nyaman untuk mencapainya. Tidak ada
orang waras yang memilih ancaman, intimidasi, fitnah, pengawasan, dan tekanan
psikologis sebagai strategi promosi diri. Popularitas yang dibangun di atas
risiko semacam itu bukanlah jalan pintas menuju ketenaran, melainkan jalan
panjang menuju ketidakpastian. Karena itu, tuduhan "cari panggung"
sering kali lebih mencerminkan kemalasan berpikir daripada kemampuan
menganalisis.
Tuduhan tersebut memungkinkan seseorang menghindari
substansi kritik. Tidak perlu menjawab persoalan kemiskinan. Tidak perlu
membahas pendidikan. Tidak perlu membicarakan kebijakan publik. Tidak perlu
masuk ke wilayah data dan argumen. Cukup menyerang motif orang yang berbicara,
lalu berharap publik melupakan apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.
Padahal masa lalu bisa dijadikan pembelajaran untuk menunjukkan
bahwa perubahan sosial tidak pernah lahir dari orang-orang yang memilih diam.
Hak-hak yang dinikmati masyarakat hari ini tidak muncul begitu saja. Kebebasan
berpendapat tidak jatuh dari langit. Ruang demokrasi tidak lahir secara alami.
Semua itu merupakan hasil perjuangan panjang orang-orang yang berani mengambil
risiko ketika mayoritas masyarakat memilih aman.
Karena itu, persoalan yang sesungguhnya bukan apakah
kita setuju dengan seluruh pendapat Tiyo Ardianto atau tidak. Dalam demokrasi,
perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Persoalannya adalah apakah kita
masih mampu menghargai keberanian ketika melihatnya.
Apakah kita masih mampu membedakan antara orang yang
sedang memperjuangkan isu publik dengan orang yang sekadar mencari perhatian? Apakah
kita masih memiliki kejujuran moral untuk mengakui bahwa ada risiko yang sedang
ditanggung seseorang demi menyuarakan persoalan yang juga memengaruhi kehidupan
kita sendiri.
Sebab perjuangan tidak pernah bisa dilakukan
sendirian. Tidak ada aktivis, mahasiswa, akademisi, jurnalis, atau pegiat
demokrasi yang mampu mengubah keadaan seorang diri. Perubahan hanya mungkin
terjadi ketika masyarakat menyadari bahwa persoalan yang diperjuangkan oleh
segelintir orang sesungguhnya adalah persoalan mereka juga.
Jika rakyat memilih diam, perjuangan akan kalah. Jika
rakyat memilih menjadi penonton, keadaan tidak akan berubah. Jika rakyat lebih
sibuk menyerang orang yang berbicara daripada mendengarkan apa yang
dibicarakan, maka yang menang bukanlah kebenaran, melainkan ketakutan.Sejarah
selalu berubah karena ada orang-orang yang berani berbicara, dan ada masyarakat
yang cukup sadar untuk tidak meninggalkan mereka berjuang sendirian.
Lalu, Ketika ada seseorang yang berani menyuarakan
persoalan yang juga menyangkut hidup kita, apakah kita akan berdiri di
sampingnya, atau justru ikut melempar batu ke arah orang yang sedang
memperjuangkan hak kita sendiri?

